PGSD FIP UNESA dan Mindanao State University Perkuat Kolaborasi Internasional melalui Pelatihan Desain Pembelajaran Mitigasi Bencana
Surabaya, 13 September 2026 — Kolaborasi internasional antara Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan Mindanao State University diwujudkan melalui Pelatihan Internasional Desain Pembelajaran untuk Mitigasi Bencana Berbasis Riset, Minggu (13/9). Kegiatan ini diikuti oleh para guru sekolah dasar Labschool Universitas Negeri Surabaya dan menghadirkan akademisi dari kedua perguruan tinggi sebagai narasumber.
Pelatihan tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam mengembangkan pembelajaran berbasis riset yang relevan dengan kebutuhan sekolah dasar, khususnya dalam menghadapi berbagai potensi bencana. Selain memperkuat wawasan guru mengenai mitigasi bencana, kegiatan ini juga mendorong peserta untuk mengembangkan action research dan media pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah dasar.
Dari Mindanao State University, Michael B. Cahapay, Ph.D. membawakan materi mengenai action research. Dalam paparannya, ia memperkenalkan konsep “Topology of Research”, sebuah metafora yang menggambarkan bagaimana proses penelitian berkembang dalam praktik.
Melalui ilustrasi garis yang bergerak datar, naik, turun, dan kembali naik, ia menjelaskan bahwa proses penelitian tidak selalu berjalan lurus dan dapat diprediksi. Tahapan penelitian dapat dimulai dari kondisi yang belum jelas, kemudian berkembang ketika peneliti menemukan ide, pertanyaan, atau wawasan baru.
“Penelitian tidak selalu merupakan perjalanan yang lurus dan dapat diprediksi. Penelitian merupakan proses yang terus berulang, yang melibatkan eksplorasi, penemuan, hambatan, refleksi, dan munculnya pemahaman baru,” jelasnya.
Ia juga mengajak guru untuk melihat berbagai permasalahan yang muncul dalam pembelajaran sebagai peluang untuk melakukan penelitian tindakan. Permasalahan yang ditemukan di kelas dapat menjadi titik awal bagi guru untuk melakukan identifikasi masalah, merancang tindakan, mengamati hasil, dan melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran.
“Permasalahan yang dihadapi guru di dalam kelas dapat menjadi titik awal yang bermakna untuk melakukan penelitian tindakan. Melalui proses tersebut, guru dapat memahami permasalahan pembelajaran sekaligus mencari langkah perbaikan yang sesuai dengan kondisi peserta didik,” tambahnya.
Sementara itu, Ulhaq Zuhdi, S.Pd., M.Pd., Dosen PGSD FIP UNESA, memberikan materi mengenai desain pembelajaran untuk mitigasi bencana di sekolah dasar. Materi tersebut menekankan pentingnya mengintegrasikan pendidikan mitigasi bencana ke dalam pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan mitigasi bencana perlu diberikan secara kontekstual agar peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai bencana, tetapi juga mampu memahami tindakan yang perlu dilakukan ketika menghadapi kondisi kebencanaan.
“Pembelajaran mitigasi bencana di sekolah dasar perlu dirancang secara kontekstual. Peserta didik tidak cukup hanya mengetahui jenis-jenis bencana, tetapi juga perlu memahami langkah yang dapat dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, guru juga diarahkan untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan yang ditemukan dalam proses pembelajaran di sekolah dasar. Permasalahan tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi topik action research sehingga guru memiliki kesempatan untuk melakukan perbaikan pembelajaran berdasarkan kondisi nyata di kelas.
Selain penelitian tindakan, peserta juga diajak untuk mengembangkan media pembelajaran untuk mitigasi bencana. Pengembangan media diarahkan agar materi kebencanaan dapat disampaikan secara lebih konkret, menarik, dan mudah dipahami oleh peserta didik sekolah dasar.
“Guru perlu memiliki kreativitas dalam mengembangkan media pembelajaran mitigasi bencana. Media yang sesuai dengan karakteristik peserta didik akan membantu mereka memahami konsep kebencanaan sekaligus mengenali tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi bencana,” tuturnya.
Pelatihan ini mempertemukan perspektif internasional dari Mindanao State University dengan perspektif pendidikan dasar dari PGSD FIP UNESA. Michael B. Cahapay, Ph.D. memberikan penguatan pada aspek penelitian tindakan, sedangkan Ulhaq Zuhdi, S.Pd., M.Pd. mengarahkan peserta pada penerapan desain pembelajaran mitigasi bencana dalam konteks sekolah dasar.
Kolaborasi tersebut memberikan kesempatan kepada guru untuk menghubungkan proses penelitian dengan praktik pembelajaran. Guru tidak hanya diajak mengidentifikasi persoalan yang muncul di kelas, tetapi juga merancang tindakan perbaikan dan menghasilkan inovasi pembelajaran yang dapat digunakan secara langsung.
Melalui kegiatan ini, guru sekolah dasar Labschool UNESA diharapkan semakin mampu membangun budaya refleksi dan riset dalam pembelajaran. Action research dapat menjadi sarana bagi guru untuk mengkaji persoalan pembelajaran secara sistematis, sedangkan desain dan media pembelajaran mitigasi bencana dapat menjadi bentuk konkret penerapan hasil refleksi tersebut.