Pro—Kontra: Canva dalam Pendidikan Guru Sekolah Dasar menjadi Inovasi atau Ilusi?
Canva diperkenalkan sebagai alat desain yang mudah diakses
dan relevan untuk pendidikan guru sekolah dasar karena menawarkan cara cepat
menghasilkan media pembelajaran visual yang menarik. Secara pro, platform ini
menurunkan hambatan teknis sehingga mahasiswa calon guru dapat fokus pada
pengemasan pesan pedagogis dan penguatan komunikasi visual. Canva juga
mendukung praktik kolaboratif yang penting dalam pelatihan guru melalui fitur
teamwork dan template yang dapat disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Namun,
narasi pro tersebut berhadapan dengan kontra yang bersifat struktural:
ketergantungan pada template siap pakai dapat mengerdilkan kemampuan inovasi
desain dan berpikir kritis pedagogis. Ada juga risiko banalitas estetika di
mana tampilan cantik dianggap menggantikan kedalaman analitis bahan ajar yang
seharusnya kritis dan bertaut pada tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, klaim
bahwa Canva otomatis meningkatkan kualitas pendidikan guru perlu diuji melalui
kajian implementasi dan evaluasi hasil belajar yang sistematis.
Dari perspektif pedagogis, penggunaan Canva memerlukan
transposisi dari sekadar kemampuan teknis menjadi keterampilan pedagogik yang
terintegrasi, misalnya kemampuan merancang LKPD visual yang memfasilitasi
berpikir tingkat tinggi. Di sisi pro, Canva mempermudah visualisasi konsep
abstrak sehingga calon guru dapat merancang scaffolding visual untuk siswa SD,
seperti peta konsep, diagram, dan infografis proses sains. Namun kontra muncul
ketika desain dipandang sebagai solusi tunggal tanpa mempertimbangkan
kesesuaian dengan tahapan perkembangan anak dan tujuan evaluasi; tampilan
menarik tidak otomatis menjamin aktivitas berpikir siswa. Risiko lain adalah
pendewaan teknologi yang membuat dosen atau lembaga pendidikan berpuas diri
pada output grafis tanpa menguatkan substansi RPP, asesmen, dan strategi
diferensiasi. Kritisnya, institusi pendidikan guru harus memastikan bahwa
penguasaan Canva diukur bukan sekadar produk visual, tetapi kemampuan merancang
pengalaman belajar yang valid dan bermakna. Dengan kata lain, integrasi Canva
harus diikuti indikator pedagogis yang jelas dan bukti empiris tentang
dampaknya terhadap kualitas praktik mengajar.
Aspek profesionalisme guru juga menjadi medan pro-kontra
penting yang perlu dianalisis secara mendalam sebelum mengadopsi Canva sebagai
standar kompetensi. Pendukung berargumen bahwa penguasaan alat desain digital
adalah bagian dari kompetensi abad ke-21 yang harus dimiliki calon guru,
terutama untuk menjembatani literasi visual siswa. Pihak kontra mengingatkan
bahwa menambahkan keterampilan teknis tanpa penguatan pedagogi dapat
menciptakan guru yang produktif secara media tetapi lemah dalam kemampuan
asesmen dan manajemen kelas. Lebih problematis lagi, menempatkan Canva sebagai
syarat kompetensi bisa memperlebar kesenjangan antara mahasiswa dari latar
belakang sosial-ekonomi berbeda yang memiliki akses teknologi tidak setara.
Oleh karena itu, pengembangan kompetensi harus disertai kebijakan afirmatif
yang menjamin akses, pelatihan, dan waktu bagi semua calon guru untuk menguasai
baik aspek teknis maupun pedagogis. Evaluasi kompetensi guru masa depan harus
menilai kemampuan mengintegrasikan desain visual ke dalam praktik pengajaran
yang berbasis bukti.
Kekhawatiran finansial dan logistik juga menjadi bagian dari
kontra yang jarang dibahas dalam wacana adopsi Canva di pendidikan guru sekolah
dasar. Implementasi massal memerlukan perangkat, konektivitas, dan dukungan IT
yang tidak semua program studi miliki, sehingga biaya tersembunyi dapat
membebani institusi dan mahasiswa. Di sisi pro, ada argumen bahwa versi gratis
Canva sudah memadai untuk banyak kebutuhan dasar dan bahwa investasi awal akan
terbayar melalui efisiensi pembuatan media. Namun kontra menekankan bahwa versi
gratis memiliki keterbatasan hak cipta, watermark, dan opsi ekspor yang mungkin
menghambat penggunaan profesional atau publikasi bahan ajar. Lebih serius,
pendekatan ad hoc terhadap pembelian lisensi atau penyediaan perangkat tanpa
rencana pemeliharaan jangka panjang dapat menghasilkan infrastruktur yang rapuh
dan program pelatihan yang tidak berkelanjutan. Oleh karena itu, keputusan
adopsi harus melalui analisis biaya-manfaat dan rancangan keberlanjutan, bukan
sekadar replikasi tren teknologi.
Akhirnya, pro dan kontra penggunaan Canva harus dilihat
dalam kerangka reformasi kurikulum pendidikan guru yang lebih luas dan terukur.
Jika dimasukkan sebagai elemen pembelajaran, Canva sebaiknya disusun dalam
modul pembelajaran yang mengaitkan teori desain instruksional, psikologi
perkembangan anak, dan asesmen autentik. Di level pro, hal ini memperkaya
kurikulum dengan praktik nyata yang mempersiapkan guru menghadapi tantangan
pembelajaran visual di kelas. Namun secara kritis, jika Canva hanya
diberlakukan sebagai keterampilan teknis mandiri, maka ia berisiko menjadi
substitusi pendekatan mendalam yang sejatinya diperlukan dalam pendidikan guru.
Rekomendasi penting adalah menyusun standar kompetensi berbasis bukti yang
mengukur baik produk maupun proses desain pedagogis. Dengan demikian,
pro-kontra tidak hanya menjadi wacana retoris, tetapi diarahkan menjadi
kebijakan implementatif yang memperkuat kualitas pendidikan guru sekolah dasar.
Penulis: Putri Arina Hidayati
Sumber Gambar: Google_NNC Netralnews