Banyak tapi Tak Bermakna: Ketika Kuantitas Mengalahkan Kualitas Pembelajaran
Kata kunci: kualitas pembelajaran
pgsd.fip.unesa.ac.id – Fenomena pembelajaran yang berorientasi pada kuantitas semakin sering ditemui dalam dunia pendidikan. Banyaknya materi yang harus dituntaskan, padatnya jadwal pelajaran, serta tingginya target capaian akademik kerap menjadi prioritas utama. Namun, kondisi ini memunculkan persoalan serius ketika kuantitas pembelajaran justru mengalahkan kualitas dan makna belajar bagi peserta didik.
Dalam praktik di sekolah, guru sering dihadapkan pada tuntutan untuk menyelesaikan seluruh kompetensi dasar dalam waktu yang terbatas. Akibatnya, proses pembelajaran berlangsung cepat dan cenderung berorientasi pada penyampaian materi semata. Siswa dituntut untuk memahami banyak hal dalam waktu singkat, tanpa kesempatan yang cukup untuk mendalami konsep atau mengaitkannya dengan kehidupan nyata.
Pembelajaran yang terlalu menekankan kuantitas materi berpotensi mengurangi keterlibatan aktif siswa. Proses belajar menjadi satu arah, guru menjelaskan dan siswa mencatat. Diskusi, refleksi, dan eksplorasi ide sering kali terabaikan karena dianggap memakan waktu. Padahal, aktivitas tersebut justru menjadi kunci pembelajaran bermakna yang mampu membangun pemahaman jangka panjang.
Dampak lain dari dominasi kuantitas adalah meningkatnya beban kognitif siswa. Terlalu banyak materi dapat membuat siswa mengalami kelelahan belajar dan kehilangan motivasi. Belajar tidak lagi menjadi proses yang menyenangkan, melainkan kewajiban yang harus diselesaikan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi sikap siswa terhadap pendidikan dan proses belajar itu sendiri.
Kualitas pembelajaran seharusnya diukur dari sejauh mana siswa memahami, mampu menerapkan, dan merefleksikan pengetahuan yang diperoleh. Pembelajaran bermakna mendorong siswa untuk berpikir kritis, bertanya, dan menemukan solusi atas permasalahan. Ketika kualitas diutamakan, guru memiliki ruang untuk menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik.
Perubahan paradigma sangat diperlukan agar pembelajaran tidak sekadar mengejar kuantitas. Guru perlu didukung untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang mendalam dan kontekstual, seperti pembelajaran berbasis proyek, diskusi kelompok, dan pembelajaran reflektif. Evaluasi pembelajaran pun perlu diarahkan pada proses dan pemahaman, bukan hanya hasil akhir berupa nilai.
Secara keseluruhan, pembelajaran yang banyak namun tidak bermakna berisiko menghilangkan esensi pendidikan. Pendidikan seharusnya membekali siswa dengan pemahaman, keterampilan, dan sikap yang relevan dengan kehidupan. Dengan menempatkan kualitas sebagai prioritas utama, pembelajaran tidak hanya menjadi aktivitas menghafal, tetapi proses pembentukan manusia yang utuh dan berdaya saing.