Menjadi Anak Pertama: Kuat di Luar, Rapuh di Dalam
Banyak orang berpikir menjadi anak pertama itu
sederhana, sekadar lahir lebih dulu lalu otomatis menjadi panutan. Padahal, di
balik label “kakak”, tersimpan beban yang sering tak terlihat oleh siapa pun.
Anak pertama kerap dituntut untuk mandiri sejak dini, mengambil keputusan
sendiri, menahan cerita yang tidak mungkin dibagi, dan terlihat kuat meski
sebenarnya sedang berjuang seorang diri.
Saat memasuki dunia kuliah, apalagi harus merantau dan
hidup di kos, rasa “sendirian” itu semakin terasa nyata. Semua hal dari urusan
akademik, masalah pribadi, hingga mengatur keuangan, harus dihadapi tanpa
banyak bimbingan. Mereka belajar bertahan dari tekanan tugas, tuntutan, dan
tanggung jawab, sambil diam-diam berharap ada yang mengerti kelelahan yang tak
pernah diucapkan. Bahkan di tengah padatnya kuliah, banyak anak pertama memilih
bekerja part-time demi meringankan beban orang tua. Semua dilakukan senyap,
tanpa keluhan, karena takut merepotkan siapa pun.
Di balik ketangguhan itu, sebenarnya ada sisi rapuh
yang jarang terlihat. Anak pertama sering memaksa diri untuk selalu kuat,
selalu terlihat mampu, selalu jadi sandaran. Namun mereka juga manusia bisa
lelah, kecewa, dan butuh tempat untuk bersandar. Sering kali, mereka hanya
memeluk diri sendiri dalam diam, percaya bahwa tidak ada yang benar-benar
memahami apa yang sedang mereka pikul.
Namun, ada satu hal penting yang perlu disadari: perjalanan
berat ini bukan untuk menjatuhkan mereka, melainkan membentuk karakter yang
lebih matang, bijaksana, dan tangguh. Mereka tidak harus sempurna, tidak harus
kuat setiap hari, dan tidak harus menyelesaikan segalanya sendirian. Yang terpenting
adalah terus melangkah, meski pelan, tetap berusaha meski lelah, dan menyadari
bahwa setiap proses yang dijalani akan menjadi kekuatan besar di masa depan.
Sedikit Motivasi untuk Kamu, Anak Pertama yang
Diam-Diam Berjuang:
● Kamu tidak harus baik-baik
saja setiap waktu.
● Tidak apa-apa menangis,
istirahat, atau meminta bantuan.
● Kamu boleh rapuh. Rapuh bukan
berarti lemah.
● Kamu berhak merasa bangga
pada semua yang sudah kamu jalani sendiri.
● Semua proses mandirimu hari
ini akan menjadi kekuatan besar suatu hari nanti.
Dan ingat, meskipun orang lain tidak selalu mengerti,
Tuhan selalu melihat jalan panjang yang kamu tempuh sendirian, dan itu tidak
pernah sia-sia.
Tetap melangkah, pelan tidak apa-apa. Kamu jauh lebih
kuat dari yang kamu kira.
Penulis: Qonita Adzkiya’