Belajar Membaca dan Berhitung ala Merdeka: Saat Anak Kelas Awal Jadi Pemilik Proses Belajarnya Sendiri
Bayangkan ruang kelas 1 SD yang riuh rendah bukan karena keributan, tapi karena gemuruh semangat belajar. Di satu sudut, seorang anak dengan serius merangkai huruf-huruf magnet menjadi kata pertama yang berhasil dibacanya sendiri. Di sudut lain, dua anak lain sibuk menghitung kancing berwarna untuk menyelesaikan "misinya". Inilah wajah Merdeka Belajar di kelas awal, sebuah filosofi yang meyakini bahwa bahkan anak usia 6-8 tahun pun mampu dan berhak mengemudikan proses belajarnya sendiri, terutama dalam fondasi terpenting: membaca dan berhitung.
Penerapan Merdeka Belajar dalam membaca dimulai dengan menggeser fokus dari "harus bisa" menjadi "ingin bisa". Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber suara yang harus ditirukan, melainkan fasilitator yang menyediakan beragam "pintu masuk" ke dunia literasi. Beberapa anak mungkin lebih mudah mengenal huruf melalui lagu dan gerakan, sementara anak lain lebih tertarik dengan kartu bergambar atau permainan pencarian huruf di koran bekas. Esensinya adalah memberikan kebebasan memilih cara belajar yang paling nyaman bagi masing-masing anak, sehingga motivasi datang dari dalam diri, bukan dari paksaan.
Strategi "pembelajaran berdiferensiasi" menjadi jantungnya. Di kelas yang sama, bisa saja terdapat tiga kelompok kecil dengan aktivitas berbeda: satu kelompok masih asyik bermain kartu suku kata, kelompok lain sudah mulai membaca buku cerita pendek dengan panduan guru, sementara kelompok tengah mempraktikkan membaca dengan ekspresi. Guru berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain, memberikan bantuan yang sangat personal sesuai kebutuhan masing-masing anak, tanpa mencap ada yang "terlambat" atau "lebih cepat".
Dalam pembelajaran berhitung, konsep konkret dan kontekstual adalah kunci kemerdekaan. Anak-anak tidak dirisaukan dengan hafalan angka semata, tetapi diajak memahami makna bilangan melalui benda-benda nyata di sekelilingnya. Mereka bebas menggunakan jari, biji-bijian, balok, atau mainannya sendiri sebagai alat berhitung. Sebuah soal penjumlahan tidak lagi berupa "2+3=?", tetapi menjadi cerita, "Jika kamu memiliki 2 permen dan ibu memberimu 3 permen lagi, berapa banyak permen yang kamu miliki untuk dibagikan?". Matematika menjadi bahasa untuk memecahkan masalah kehidupan kecil mereka.
Portofolio perkembangan menggantikan tes formatif yang menakutkan. Kemajuan membaca dan berhitung tidak lagi hanya diukur dengan angka di kertas ulangan, tetapi didokumentasikan dalam bentuk kumpulan karya, rekaman video saat anak bercerita, atau foto aktivitas berhitung mereka. Guru dan orang tua bisa melihat perkembangan autentik dari waktu ke waktu, sementara anak merasa pencapaiannya dihargai, sekecil apa pun itu. Setiap anak memiliki "peta perjalanan belajar" yang berbeda, dan guru adalah pendamping yang merayakan setiap milestone unik mereka.
Merdeka Belajar di kelas awal tentang membaca dan berhitung pada hakikatnya adalah seni memercayai kapasitas anak. Ini adalah proses melepaskan kendali penuh sebagai guru, lalu beralih peran menjadi pengamat yang sabar, penyedia sumber belajar yang kreatif, dan penyemangat bagi setiap langkah kecil kemajuan. Ketika anak merasakan bahwa mereka adalah pemilik sah dari proses belajar membaca dan berhitunganya sendiri, maka fondasi itu tidak hanya kokoh secara akademis, tetapi juga membangun kepercayaan diri yang akan menyangga semua pembelajaran seumur hidup mereka. Di sinilah esensi pendidikan sejati: menyalakan obor keingintahuan, bukan sekadar mengisi bejana pengetahuan.
Penulis: Nindi Aliefia Risavanna