Budaya ‘Deadline Warrior’: Ketika Mahasiswa Hidup Berdampingan dengan Tugas
pgsd.fip.unesa.ac.id,
Surabaya - Bagi mahasiswa kekinian, istilah “Deadline Warrior” bukan hal asing.
Ini bukan sekadar julukan, tetapi gaya hidup tak tertulis yang dijalani hampir
setiap hari. Entah karena tugas menumpuk, jadwal padat, atau sekadar kebiasaan
menunda, banyak mahasiswa akhirnya terbiasa bekerja di detik-detik terakhir —
dan anehnya, justru merasa paling produktif di situ.
- Tugas Tak Pernah Ada Habisnya
Setiap
minggu ada saja deadline baru: makalah, presentasi, laporan, jurnal, hingga
tugas kelompok yang sering berakhir dikerjakan sendiri.
Mahasiswa
akhirnya belajar hidup berdampingan dengan tugas, seperti sahabat yang selalu
menempel.
- Adrenalin Menjelang Tenggat Waktu
Menulis
tugas satu jam sebelum pengumpulan, mengetik sambil deg-degan, atau
mengandalkan energi kopi untuk menyelesaikan semuanya—ritual ini sudah menjadi
bagian dari identitas “deadline warrior”. Bagi sebagian mahasiswa, adrenalin
jam-jam terakhir justru membuat fokus meningkat.
- Perpaduan Produktivitas dan Prokrastinasi
Mahasiswa
kekinian sangat produktif, tetapi juga sangat mudah terdistraksi. Scroll TikTok
sebentar, tiba-tiba sudah satu jam. Buka YouTube untuk "background noise",
tahu-tahu nonton 3 video esai. Pada akhirnya, produktivitas sering datang bukan
karena ingin, tetapi karena terpaksa oleh deadline.
- Kafe, Musik Lo-Fi, dan Laptop: Senjata Wajib
Banyak
mahasiswa kini menjadikan kafe sebagai kantor kedua. Alasan populer: suasana
mendukung fokus, internet cepat, vibes “produktif” yang menular dan cocok untuk
mengerjakan tugas mepet deadline. Musik lo-fi dan earphone jadi teman setia,
seakan lagu-lagu itu punya kekuatan magis untuk menunda panik.
- Tugas Kelompok: Sumber Drama Tanpa Akhir
Budaya
deadline warrior makin kuat ketika tugas kelompok datang. Ada yang hilang, ada
yang sibuk, ada yang baru muncul menjelang pengumpulan—dan biasanya ada satu
orang yang tanpa sengaja menjadi pahlawan deadline.
- Di Balik Semua Itu, Ada Semangat Bertahan
Meski
terlihat kacau, budaya ini menunjukkan ketangguhan mahasiswa saat harus
menghadapi tekanan.
Mereka
belajar: mengatur waktu semampunya, beradaptasi dengan cepat, berpikir jernih
di bawah tekanan, menyelesaikan masalah secara kreatif
Budaya ini bukan
sekadar tradisi mahasiswa, tetapi cerminan kehidupan modern yang serba cepat.
Mahasiswa belajar bertahan, berjuang, dan berkembang di tengah tumpukan tugas
yang tak pernah berhenti.
Pada akhirnya,
menjadi deadline warrior adalah bagian dari perjalanan: melelahkan, lucu, penuh
drama tetapi juga membentuk karakter.
Penulis: Aqila
Khusna Naovalia