Burnout Akademik: Bahaya yang Sering Diabaikan di Dunia Kampus
Kata kunci: burnout akademik
pgsd.fip.unesa.ac.id - Burnout akademik sering disamarkan sebagai “fase sibuk mahasiswa” yang dianggap wajar dalam kehidupan kampus. Banyak pihak memaklumi kelelahan mahasiswa selama masih mampu mengikuti kuliah dan mengumpulkan tugas. Padahal, burnout yang dibiarkan berlarut-larut dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan mental dan performa akademik jangka panjang.
Burnout akademik tidak hanya ditandai oleh rasa lelah fisik, tetapi juga munculnya emosi negatif terhadap aktivitas belajar. Mahasiswa merasa jenuh, apatis, dan kehilangan minat terhadap perkuliahan. Dalam kondisi ini, mahasiswa tetap hadir secara fisik, tetapi tidak terlibat secara emosional dan intelektual. Proses belajar pun menjadi tidak bermakna.
Menurut Harvard Health Publishing (https://www.health.harvard.edu ), burnout dapat memengaruhi fungsi otak, memicu gangguan konsentrasi, serta meningkatkan risiko kecemasan dan depresi. Kondisi ini mengurangi kemampuan berpikir jernih, mengambil keputusan, dan mengontrol emosi. Jika terus diabaikan, burnout dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih berat.
Laporan dari World Health Organization (WHO) melalui https://www.who.int menunjukkan bahwa stres jangka panjang berdampak langsung pada kesehatan mental dan fisik. Stres akademik yang tidak tertangani bukan hanya merugikan mahasiswa, tetapi juga berdampak pada kualitas pendidikan secara keseluruhan.
Dampak burnout juga terlihat dalam perilaku mahasiswa sehari-hari. Banyak mahasiswa menjadi mudah marah, menarik diri dari lingkungan sosial, dan mengalami gangguan tidur. Beberapa bahkan menggunakan cara tidak sehat untuk bertahan, seperti konsumsi kafein berlebihan atau menunda tugas hingga batas akhir, yang justru memperparah kondisi fisik dan mental.
Oleh karena itu, kampus perlu menghadirkan kebijakan yang lebih ramah mental health, seperti penyediaan layanan konseling yang mudah diakses, jadwal akademik yang manusiawi, serta edukasi kesehatan mental sejak awal masa perkuliahan. Mahasiswa pun perlu dibekali pemahaman tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara belajar dan kehidupan pribadi.
Burnout akademik bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa sistem dan individu sama-sama perlu berbenah. Dunia kampus seharusnya menjadi ruang tumbuh, bukan ruang yang melumpuhkan secara perlahan.
Penulis: Aini Athaya
Sumber foto: google