Canva sebagai Media Kreatif yang Menguatkan Kompetensi Calon Guru Sekolah Dasar
Penggunaan Canva dalam
lingkungan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) semakin berkembang sebagai
respons terhadap tuntutan kompetensi abad ke-21 yang menekankan literasi
visual, kreativitas, dan kemampuan merancang media pembelajaran. Dalam konteks
pendidikan dasar, guru tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi juga harus
mampu mengemas informasi menjadi menarik dan mudah dipahami oleh siswa. Di
sinilah Canva berperan penting sebagai alat desain yang membantu calon guru
menghasilkan media yang komunikatif tanpa membutuhkan kemampuan teknis desain
yang kompleks. Namun, penting untuk mengkritisi bahwa penggunaan Canva bukan
sekadar mengikuti tren digital, tetapi harus diarahkan pada peningkatan
kualitas penyampaian materi serta efektivitas proses belajar mengajar.
Dalam pembelajaran di program studi
PGSD, Canva sering dimanfaatkan untuk menyusun LKPD, poster pembelajaran,
infografis, maupun presentasi yang berorientasi pada kebutuhan siswa sekolah
dasar. Kelebihannya yang menawarkan banyak template dan elemen visual memungkinkan
mahasiswa memproduksi media pembelajaran dalam waktu singkat. Walau demikian,
terdapat tantangan berupa kecenderungan mahasiswa bergantung pada template
sehingga kreativitas tidak berkembang optimal. Oleh karena itu, penggunaan
Canva harus dikritisi sebagai alat bantu, bukan sebagai satu-satunya acuan
dalam proses desain pembelajaran. Calon guru perlu memahami konsep pedagogi
visual agar media yang dihasilkan tetap sesuai dengan karakteristik
perkembangan anak usia sekolah dasar.
Lebih jauh, integrasi Canva dalam
kurikulum PGSD juga mencerminkan transformasi pembelajaran dari pendekatan
konvensional ke arah pembelajaran berbasis teknologi. Hal ini menuntut
mahasiswa untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga sebagai
produsen konten edukatif yang mampu menjembatani kebutuhan siswa. Kritik yang
muncul adalah bahwa tidak semua mahasiswa memiliki akses perangkat atau
internet yang stabil, sehingga penggunaan Canva dapat menimbulkan kesenjangan
digital. Program studi perlu memastikan bahwa inklusivitas tetap terjaga dengan
menyediakan fasilitas pendukung serta pelatihan intensif agar semua mahasiswa
dapat memanfaatkannya secara setara.
Canva juga membuka ruang bagi calon
guru untuk mengembangkan keterampilan kolaboratif melalui fitur real-time
collaboration yang memungkinkan pembuatan media secara kelompok. Dalam
konteks PGSD, kolaborasi bukan sekadar kerja kelompok, tetapi bagian dari pembentukan
karakter profesional guru yang mampu berkomunikasi, berbagi ide, dan
menyelesaikan masalah secara bersama. Kritik yang perlu diperhatikan adalah
bahwa kolaborasi digital tidak selalu berjalan efektif jika mahasiswa belum
memiliki kompetensi komunikasi akademik dan disiplin manajemen waktu yang baik.
Ini menandakan bahwa penggunaan Canva harus dibarengi dengan pembinaan soft
skills sebagai bagian integral dari kompetensi guru professional.
Pada akhirnya, pemanfaatan Canva
dalam pendidikan calon guru SD bukan hanya tentang kecakapan teknis desain,
tetapi juga tentang bagaimana teknologi mendukung kualitas pembelajaran yang
berorientasi pada siswa. PGSD perlu mengembangkan kurikulum yang menempatkan
Canva sebagai media pedagogis, bukan sekadar alat estetika. Media yang menarik
secara visual belum tentu efektif membelajarkan siswa jika tidak dibangun
berdasarkan analisis kebutuhan belajar, tujuan pembelajaran, dan prinsip
psikologi perkembangan anak. Dengan pendekatan kritis tersebut, Canva dapat menjadi
media yang benar-benar memperkuat kompetensi calon guru SD dalam menghasilkan
pembelajaran yang kreatif, bermakna, dan relevan dengan kebutuhan pendidikan
masa kini.
Penulis: Putri Arina Hidayati
Sumber Gambar: Google_Sasana Digital