Capek Tapi Jalan di Tempat? Waspada Toxic Productivity, Si Perampok Tenaga dan Bahagiamu!
Kamu merasa diri paling sibuk: jadwal belajar numpuk,
to-do list sepanjang lengan, dan begadang jadi menu harian. Kamu bangga
karena merasa sangat "produktif". Tapi, di balik semua kesibukan itu,
ada rasa lelah yang dalam, prestasi akademis justru stagnan, dan perasaan
bersalah setiap kali mengambil waktu untuk istirahat. Hati-hati, jangan-jangan
kamu bukan lagi produktif, tapi sudah terjebak dalam Toxic Productivity sebuah
ilusi di mana kamu merasa sibuk, tapi sebenarnya justru kehilangan efisiensi
dan kesejahteraan mental. Yuk, kenali ciri-cirinya sebelum kamu kehabisan
baterai!
1. Apa Itu Toxic
Productivity? Beda Tipis dengan Rajin Biasa
Toxic Productivity adalah obsesi tidak sehat
untuk selalu terlihat sibuk dan produktif setiap saat, hingga mengorbankan kesehatan
mental, fisik, dan hubungan sosial. Ini bukan sekadar rajin, tapi sudah menjadi
budaya "hustle" yang beracun.
Analogi sederhananya:
·
Produktivitas
Sehat: Seperti pelari maraton yang tahu kapa harus lari, kapan harus minum, dan
kapan harus istirahat agar sampai di garis finish dengan kondisi baik.
· Toxic Productivity: Seperti pelari yang memaksakan
diri lari sprint dari awal sampai pingsan di tengah jalan, tanpa pernah sampai
ke tujuan.
2. 5 Tanda Kamu Sudah Terjebak dalam Lingkaran Setan Ini
Cek, siapa tau kamu
mengalaminya tanpa sadar:
1)
Istirahat = Bersalah. Kamu merasa gelisah, cemas, dan tidak
berguna saat sedang tidak mengerjakan sesuatu. Nonton film atau sekadar
rebahan sebentar saja bikin hati dag-dig-dug seolah kamu sedang melakukan dosa
besar.
2)
Self-Worth diukur dari Seberapa Sibuk Dirimu. Identitasmu seakan-akan
hanya "si penyelesai tugas". Kamu merasa berharga hanya ketika sedang
mencentang to-do list. Ketika tidak, kamu merasa menjadi orang yang
gagal dan tidak cukup baik.
3)
"Busy, But Not Effective". Kamu sibuk rewrite catatan
sampai rapi berwarna-warni selama 5 jam, padahal bisa ringkas dalam 1 jam. Kamu
merasa sibuk, tapi sebenarnya tidak ada progres signifikan pada inti tugasnya.
Ini disebut performative work (bekerja untuk pamer).
4)
Tidak Bisa Bilang "Tidak". Kamu mengambil semua
tugas kelompok, proyek tambahan, dan kegiatan kampus karena takut dianggap
pemalas. Alhasil, kamu kewalahan dan kualitas kerja pun menurun.
5)
Tubuh Mulai Berteriak: Lelah Kronis dan Mudah Sakit. Tidur
jadi barang mewah, pola makan berantai, dan kepala sering pusing. Tubuhmu sudah
memberi sinyal untuk berhenti, tapi kamu memaksanya terus bekerja. Ini adalah
jalan pintas menuju burnout.
3. Akar Masalah: Kenapa Bisa Terjebak Toxic
Productivity?
Ini bukan sepenuhnya salahmu. Budaya
dan lingkungan punya andil besar:
1) "Grind Culture" di Media Sosial: Dipenuhi
konten "rise and grind", "hustle 24/7", yang
membuatmu merasa tidak melakukan cukup banyak hal.
2) Tekanan Akademis &
Persaingan: Merasa harus lebih baik dari teman sekelas untuk dapat nilai bagus
dan masa depan cerah.
3) Rasa Takut Akan
Ketertinggalan (FOMO): Takut ketinggalan informasi, peluang, atau pengalaman
yang diambil orang lain.
5. "Detox" dari Racun: Cara Keluar dari Jerat Toxic
Productivity
1) Pasang Timer
"Istirahat Wajib"
Terapkan teknik Pomodoro (25
menit fokus, 5 menit istirahat). Yang penting, saat istirahat, benar-benar
istirahat. Jangan buka tugas! Lihat pemandangan, regangkan badan. Otak
butuh jeda untuk konsolidasi memori.
2) Shift from "Busy" to
"Effective”
Tanyakan pada dirimu sendiri:
"Apa One Thing yang bisa aku selesaikan hari ini yang akan
memberikan dampak paling besar?" Fokuslah pada 1-2 tugas prioritas tinggi,
bukan 10 tugas kecil yang tidak penting.
3) Latih Kata Ajaib:
"Tidak”
Mulai belajar menolak ajakan atau
tugas tambahan yang tidak sesuai dengan prioritas atau kapasitasmu. Kamu
tidak perlu menjadi pahlawan bagi semua orang.
4) Pisahkan Harga Diri dari
Produktivitas
Ingatkan dirimu: "Aku adalah
manusia, bukan mesin." Nilai dirimu tidak ditentukan oleh seberapa banyak
tugas yang kamu centang. Kamu berharga karena siapa dirimu, bukan karena apa
yang kamu hasilkan.
5) Jadwalkan Waktu
"Bermalas-malasan"
Ya, kamu baca itu benar. Masukkan
"rebahan", "nonton Netflix", atau "main game"
ke dalam jadwalmu sebagai aktivitas yang sah dan terencana. Ketika waktu
bersantai sudah dijadwalkan, rasa bersalahnya akan berkurang.
Produktivitas yang Sehat Itu
Berkelanjutan
Toxic Productivity ibarat lari sprint tanpa
garis finish kamu akan kehabisan napas dan jatuh. Produktivitas yang
sebenarnya adalah lari marathon; ada ritme, ada istirahat, dan tujuannya
adalah sampai di tujuan dengan kondisi yang masih baik.
Tujuan akhirnya bukanlah untuk menjadi sibuk, tetapi
untuk menjadi efektif dan bahagia. Mulai hari ini, beri dirimu izin untuk tidak
sempurna, untuk beristirahat, dan untuk mengukur kesuksesan bukan dari seberapa
lelahnya dirimu, tetapi dari seberapa seimbang dan bermakna hidupmu.
Bagikan artikel ini ke teman kelompokmu yang sering
begadang! Siapa tahu mereka juga butuh diingatkan.
Penulis: Nindi Aliefia Risavanna