Dari Kimia ke Keguruan: Perjalanan Tak Terduga yang Membawa Harapan Baru
Bagi sebagian orang, memilih jurusan kuliah adalah
proses panjang penuh perhitungan. Tapi bagiku, semuanya justru berjalan seperti
alur hidup yang tiba-tiba menyusun dirinya sendiri. Dari seorang siswi SMK
jurusan Kimia Industri yang sehari-harinya berkutat dengan laboratorium, zat
kimia, hingga PKL di ITS Surabaya dan pabrik plastik, siapa sangka akhirnya aku
berlabuh di jurusan keguruan?
Semua berawal di kelas 12 ketika guru BK
merekomendasikan siswa yang eligible untuk mengikuti SNBP. Teman-temanku heboh
melihat rata-rata nilai, memilih kampus, menyusun strategi, bahkan sudah mikir
Plan B dan C. Sedangkan aku?
Jujur saja… aku hanya mempunyai sedikit niatan daftar
kuliah.
Fokusku saat itu hanya satu: UKK (Ujian Kompetensi
Keahlian).
Sementara soal kuliah, aku benar-benar pasrah antara
ragu, bingung, dan belum yakin dengan masa depan.
Dari Keraguan, Muncul Jalan yang
Tidak Terduga
Meski awalnya tidak tertarik kuliah, aku tetap meminta
saran orang tua dan wali kelasku. Saat itu mereka menyarankan jurusan yang sama
sekali tidak terpikirkan olehku: PGSD.
Alasannya sederhana:
● Aku bilang jujur tidak
sanggup lanjut kuliah Kimia karena terlalu berat.
● Mereka melihat potensi lain
dalam diriku.
● Mereka memberiku semangat dan
keyakinan bahwa jurusan keguruan punya masa depan yang jelas.
Awalnya aku menolak secara halus, bahkan tidak pernah
membayangkan diriku menjadi guru. Tapi pelan-pelan, ada satu hal yang
menggerakkan hatiku: cita-cita mama yang pernah ingin menjadi guru tetapi tidak
kesampaian.
Aku berpikir, “Kalau bukan beliau, mungkin aku yang
bisa mewujudkannya.”
Dan dari situ, aku mulai membuka diri.
Satu Pilihan, Satu Kesempatan
Aku akhirnya mendaftar SNBP dengan satu pilihan saja:
PGSD – UNESA.
Semuanya sederhana, tanpa drama.
Menjelang pengumuman, banyak yang overthinking, sibuk
nebak-nebak hasil, bahkan deg-degan dari pagi. Tapi aku? Tetap santai. Pasrah
sepenuh-penuhnya.
“Kalau keterima, alhamdulillah. Kalau nggak, juga
nggak apa-apa,” pikirku.
Karena aku juga memikirkan biaya kuliah kalau nanti
lolos.
Hari Pengumuman: Antara Deg-degan dan
Tidak Percaya
Pukul 15.00 tiba.
Awalnya aku menunggu temanku buka bareng, tapi dia
tidak membalas pesan. Akhirnya, kubuka web SNBP sendiri, dengan jantung yang
berdebar-debar.
Dan…
Layar handpone itu muncul warna biru.
KETERIMA.
Aku terdiam beberapa detik. Antara kaget, lega, dan
merasa “ini beneran?”.
Begitu kuberi tahu orang tua, mereka bangga bukan
main. Bahkan mereka tidak menyangka aku akan lolos dengan satu pilihan itu.
Dari seorang anak SMK Kimia yang bahkan tidak berniat
daftar kuliah, tiba-tiba ditetapkan Allah untuk masuk jalur prestasi. Lintas
jurusan pula. Rasanya campur aduk: bangga, kaget, senang, takut… semua jadi
satu.
Tapi satu hal yang terasa jelas:
Aku ternyata memang diarahkan ke
sini.
Dari perjalanan yang sama sekali tidak direncanakan
ini, aku belajar bahwa tidak semua orang memulai langkah menuju kuliah dengan
persiapan matang. Kadang hidup justru membawa kita ke arah yang tidak pernah
terpikirkan dan mengejutkannya, itulah jalan terbaik. Keraguan yang dulu terasa
menghambat ternyata menjadi bagian penting dari proses menemukan arah. Nasihat
orang tua dan guru yang awalnya hanya kudengar “sekadarnya” ternyata adalah
dorongan yang membantuku melihat potensi dalam diriku sendiri. Saat itu aku
berpasrah, bukan berarti menyerah, tetapi membuka ruang untuk kemungkinan baik
yang tidak pernah kubayangkan. Bahkan lintas jurusan dari Kimia ke PGSD, yang
sempat membuatku tak yakin, kini kujalani. Dan setelah menjalani perkuliahan
hingga semester 3 ini, aku makin sadar bahwa rencana Tuhan memang selalu lebih
rapi daripada segala rencana yang coba kususun sendiri.
Untuk kamu yang mungkin masih bingung menentukan arah
kuliah atau takut salah memilih jurusan, ingatlah bahwa kamu tidak harus
mengetahui semuanya sejak awal. Yang penting adalah keberanian untuk mencoba,
membuka pintu kesempatan, dan percaya bahwa setiap langkah kecil akan
menuntunmu menuju tempat yang tepat. Kadang perjalanan yang tidak direncanakan
justru menjadi kisah paling indah dalam hidup. Hidup bukan soal memilih jalur
yang terlihat paling keren dari luar, tetapi tentang menemukan jalan yang
membuatmu berkembang, bermanfaat, dan bertumbuh menjadi dirimu yang lebih baik.
Dan siapa tahu, seperti aku, kamu pun bisa menemukan
masa depan di tempat yang dulu bahkan tidak pernah ada dalam bayanganmu.
Ingatlah, langkah kecil yang kamu ambil hari ini bisa jadi awal dari sesuatu
yang luar biasa di masa depan.
Penulis: Qonita Adzkiya’