Debat Publik: Apakah AI Bisa Disebut Penulis?
Isu tentang kecerdasan buatan (AI) kembali menjadi sorotan di kalangan akademisi dan kreator digital. Kali ini, perdebatan muncul mengenai satu pertanyaan mendasar: apakah AI bisa disebut penulis? Pertanyaan ini menjadi topik utama dalam debat publik yang diselenggarakan di lingkungan kampus pada awal November 2025.
Dalam kegiatan tersebut, para pembicara dari berbagai disiplin ilmu mulai dari teknologi informasi, sastra, hingga etika komunikasi membahas peran AI dalam proses penciptaan karya tulis. Sebagian peserta berpendapat bahwa AI hanyalah alat bantu yang bekerja berdasarkan perintah manusia, sehingga hak kepenulisan tetap berada di tangan pengguna. Namun, kelompok lain menilai bahwa kontribusi AI yang mampu menghasilkan ide dan struktur teks secara mandiri sudah cukup untuk menyebutnya sebagai “penulis digital”.
Selain menyoal hak cipta, diskusi juga menyinggung tanggung jawab moral dan etika dalam publikasi karya yang dihasilkan oleh AI. Peserta diajak merenungkan batas antara kreativitas manusia dan kecerdasan buatan, serta bagaimana dunia akademik dapat beradaptasi dengan realitas baru tersebut.
Debat ini diharapkan mampu membuka wawasan mahasiswa mengenai dinamika perkembangan teknologi dalam dunia literasi dan akademik. Melalui kegiatan seperti ini, kampus menegaskan komitmennya untuk terus mengedukasi generasi muda agar bijak memanfaatkan AI sebagai mitra, bukan pengganti, dalam proses berpikir dan berkarya.
Penulis: Mutia Syafa Yunita