Di Balik Detik-Detik Deadline: Realitas, Tekanan, dan Pembentukan Karakter Mahasiswa
Kehidupan perkuliahan identik dengan dinamika yang padat, mulai dari tugas mingguan, laporan praktikum, presentasi kelompok, hingga proyek akhir semester. Di tengah berbagai tuntutan tersebut, budaya “deadline” menjadi fenomena yang hampir tidak dapat dipisahkan dari mahasiswa. Banyak mahasiswa yang baru benar-benar fokus mengerjakan tugas saat tenggat waktu semakin dekat, seolah tekanan waktu menjadi pemicu utama munculnya produktivitas. Meskipun sering dianggap sebagai kebiasaan buruk, fenomena ini memiliki lapisan makna yang lebih kompleks dan mencerminkan proses adaptasi mahasiswa terhadap tuntutan akademik.
Budaya mengejar deadline kerap muncul karena beberapa faktor. Salah satunya adalah beban tugas yang menumpuk dari berbagai mata kuliah, sehingga mahasiswa kesulitan mengatur prioritas. Selain itu, aktivitas organisasi, pekerjaan sampingan, serta kehidupan sosial juga turut mempengaruhi manajemen waktu mahasiswa. Di sisi lain, faktor psikologis seperti prokrastinasi dan perfeksionisme sering membuat mahasiswa tidak segera memulai pekerjaan, meskipun mereka sadar akan konsekuensi keterlambatan. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen waktu dan kecerdasan emosional menjadi keterampilan kunci yang harus dimiliki mahasiswa di era saat ini.
Walaupun tampak sebagai kebiasaan negatif, pengalaman menghadapi deadline sering kali menjadi proses pendewasaan. Mahasiswa dituntut untuk belajar bertanggung jawab, mengambil keputusan cepat, dan bekerja secara efisien dalam tekanan. Tidak sedikit pula yang akhirnya menemukan ritme kerja terbaiknya ketika menghadapi waktu yang sempit. Namun, tetap perlu disadari bahwa ketergantungan pada tekanan deadline dapat berdampak buruk terhadap kesehatan fisik dan mental jika tidak dikelola dengan baik.
Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk mulai membangun strategi pengelolaan waktu yang lebih sehat, seperti membuat jadwal kerja, membagi tugas menjadi bagian kecil, atau mulai mengerjakan tugas jauh sebelum tenggat tiba. Dengan begitu, budaya “deadline” dapat dipahami bukan hanya sebagai keharusan, tetapi sebagai pelajaran untuk mengenali diri, memahami kemampuan, dan membentuk kebiasaan kerja yang lebih matang.
Penulis: Dessinta Nabila Sukardanu