DIAM YANG TERPELIHARA: SAAT MENYIMPAN CERITA PERLAHAN MENGURAS DIRI
Terkadang seseorang lebih memilih menahan semua emosi yang mereka rasakan daripada mengeluarkannya secara terbuka. Pilihan ini sering muncul bukan karena tidak ingin bercerita, tetapi karena merasa situasi tidak selalu aman untuk jujur. Ada kekhawatiran bahwa cerita yang disampaikan justru akan dianggap sepele atau berlebihan. Tidak sedikit pula yang takut disalahpahami oleh orang lain. Akhirnya, diam dianggap sebagai pilihan paling aman untuk menghindari konflik dan rasa kecewa. Kebiasaan ini lama-kelamaan menjadi pola yang terus diulang. Seseorang terbiasa terlihat baik-baik saja meski sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Tanpa disadari, keputusan untuk terus menyimpan cerita mulai membentuk beban emosional dalam diri.
Emosi yang dipendam terlalu lama sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Perasaan sedih, marah, atau kecewa tetap tersimpan dan memengaruhi kondisi mental seseorang. Dalam banyak kasus, emosi yang tertahan justru muncul dalam bentuk lain yang tidak disadari. Seseorang bisa menjadi mudah lelah, sulit berkonsentrasi, atau mudah tersinggung tanpa tahu penyebabnya. Hal ini terjadi karena pikiran terus bekerja untuk menekan perasaan yang seharusnya bisa dikeluarkan. Tubuh pun ikut merespons tekanan tersebut dengan cara yang berbeda-beda. Ini menunjukkan bahwa diam tidak selalu berarti tenang atau kuat. Justru, terlalu lama memendam emosi bisa menguras energi mental secara perlahan.
Kebiasaan menyimpan cerita juga berdampak pada hubungan dengan orang lain. Ketika seseorang terbiasa menutup diri, komunikasi yang terbangun menjadi tidak sepenuhnya terbuka. Orang di sekitarnya mungkin merasa ada jarak emosional yang sulit dijelaskan. Hubungan yang seharusnya bisa saling menguatkan justru terasa hambar karena tidak adanya keterbukaan. Kesalahpahaman pun lebih mudah muncul karena perasaan yang sebenarnya tidak pernah disampaikan. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa membuat hubungan menjadi renggang. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan. Diam yang terus dipelihara akhirnya membentuk tembok yang sulit ditembus oleh orang lain.
Belajar untuk bercerita bukan berarti harus mengungkapkan semua hal sekaligus. Proses ini bisa dimulai dengan hal-hal kecil dan sederhana. Seseorang tidak perlu langsung terbuka kepada banyak orang, cukup pada satu orang yang dipercaya. Dengan berbagi cerita, beban yang sebelumnya dipikul sendirian menjadi terasa lebih ringan. Bercerita juga membantu seseorang mengenali dan memahami emosinya sendiri. Dari sini, muncul kesadaran bahwa meminta didengar bukanlah tanda kelemahan. Justru, itu adalah bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Keberanian untuk berbagi menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan mental.
Pada akhirnya, diam yang terpelihara memang sering terlihat aman dari luar, tetapi belum tentu sehat bagi diri sendiri. Menyimpan cerita tanpa batas bisa membuat seseorang kelelahan secara emosional. Setiap orang membutuhkan ruang untuk mengekspresikan perasaannya, meski dengan cara yang sederhana. Dengan membiarkan diri didengar, kita memberi kesempatan untuk pulih secara perlahan. Hidup tidak selalu menuntut kita untuk terus kuat dan bertahan sendirian. Ada saatnya kita perlu berbagi agar tidak terus-menerus menguras diri sendiri. Diam boleh menjadi pilihan, tetapi keterbukaan juga perlu diberi ruang. Keseimbangan inilah yang membantu seseorang tetap sehat secara mental dan emosional.
Penulis: Shinta Aulya Fahkruz Komari