Digitalisasi Kelas di Sekolah Dasar: Tantangan dan Peluang di Era 2025
Seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pendidikan abad 21, dunia sekolah dasar di Indonesia memasuki fase baru melalui program digitalisasi pembelajaran. Menurut data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sebanyak 288.865 sekolah ditargetkan siap untuk melakukan digitalisasi pembelajaran pada tahun 2025. detikcom+1
Digitalisasi pembelajaran ini mencakup penyediaan perangkat seperti layar interaktif (Interactive Flat Panel/IFP), laptop, dan media penyimpanan konten pembelajaran. setjen.kemdikbud.go.id Program ini bukan sekadar tren, melainkan upaya strategis untuk mengatasi tantangan seperti rendahnya capaian literasi serta “learning loss” akibat pandemi. setjen.kemendikdasmen.go.id
Bagi sekolah dasar, implementasi kelas digital membawa peluang baru dan tantangan tersendiri. Dari sisi peluang, pembelajaran dapat menjadi lebih interaktif, menarik, dan sesuai dengan gaya belajar siswa masa kini. Guru dapat memanfaatkan media digital untuk memperkaya materi, melakukan aktivitas pembelajaran yang lebih variatif, dan memberikan umpan balik secara real-time.
Namun, tantangan tak kalah besar: kesiapan infrastruktur (internet, perangkat, listrik), kompetensi guru dalam mengelola teknologi, serta kesetaraan akses antara sekolah di kota dan di daerah terpencil. Agar teknologi tak sekadar hiasan, tetapi benar-benar menunjang proses belajar yang bermakna, guru dan sekolah harus dipersiapkan secara matang.
Bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Unesa, tren digitalisasi ini menjadi ruang penting untuk menyiapkan diri sebagai guru masa depan yang adaptif dan kreatif. Calon guru SD tidak cukup menguasai mata pelajaran saja, tetapi juga harus siap mengintegrasikan teknologi pembelajaran secara tepat guna — memilih media yang relevan, merancang aktivitas yang komunikatif, dan memastikan semua siswa dapat terlibat aktif dalam kelas digital.
Dengan demikian, digitalisasi kelas di sekolah dasar bukan hanya soal “ada teknologi”, tetapi soal bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk membangun pembelajaran yang bermakna, berpusat pada siswa, dan memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan.