Dru dan Kisah Lima Kerajaan: Petualangan Magis Anak Desa dalam Dongeng Nusantara
pgsd.fip.unesa.ac.id Surabaya — Saat pertama membuka
halaman Dru dan Kisah Lima Kerajaan, pembaca disambut oleh sosok Dru,
gadis kecil asal Desa Patala yang nakal dan penuh rasa ingin tahu. Cepat sekali
Clara Ng membawanya pada sebuah petualangan magis: ketika selendangnya tertiup
angin dan terbawa jauh ke lautan, Dru justru terlempar ke dunia yang sama
sekali berbeda, dunia lima kerajaan yang penuh keajaiban dan raja-raja dengan
kisahnya masing-masing.
Dalam perjalanan itulah, Dru tidak hanya menjelajahi
kerajaan-kerajaan fisik seperti Kerajaan Logam atau Kampung Hening, melainkan
menepis bayangan dirinya sendiri tentang kesalahan-kesalahan masa lalu, tentang
keberanian, dan tentang kesempatan untuk memperbaiki. Karakter Dru berkembang
dengan manis: dari gadis yang keras kepala menjadi sosok yang berani mengambil
tanggung jawab, sekaligus memahami pentingnya pengampunan.
Clara Ng tak sekadar menyuguhkan petualangan, ia menenun
nilai-nilai moral dalam setiap detik perjalanan Dru. Dalam tiap kerajaan,
pembaca dihadapkan pada dilema yang mengajarkan empati, kejujuran, dan harapan.
Pesan-pesan ini disampaikan dengan cara yang lembut, tanpa terasa seperti
ceramah, terutama melalui dialog Dru dengan Keong Bijaksana, karakter bijak
yang menuntunnya untuk memahami arti kesepian dan tanggung jawab.
Dari segi visual dan imajinasi, buku ini pun menawan.
Petualangan di kerajaan-kerajaan diwarnai dengan nuansa magis yang khas, tanpa
meninggalkan jejak klise fantasi barat. Gaya penuturan Clara Ng disertai
sentuhan lokal: kerajaan-kerajaan dengan latar budaya nusantara, simbol-simbol
mistik, dan tantangan yang terasa sangat “Indonesia”.
Dru dan Kisah Lima Kerajaan layak menjadi bacaan wajib di
perpustakaan sekolah dan rumah, terutama bagi anak-anak yang suka berkhayal,
dan bagi orang dewasa yang rindu dongeng bermakna.
Penulis: Zahira Auliya Soekandaar (PGSD)
Dokumentasi: Instagram @kisahdru