Edukasi Sosial Bangun Sikap Toleransi
pgsd.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Program edukasi sosial digelar dengan tujuan menumbuhkan sikap toleransi di kalangan masyarakat. Kegiatan ini menghadirkan berbagai sesi interaktif yang melibatkan peserta dari berbagai latar belakang. Materi yang diberikan berfokus pada pemahaman perbedaan, empati, dan kerja sama antarindividu. Peserta diajak untuk berbagi pengalaman serta berdiskusi tentang pentingnya menghargai perbedaan. Aktivitas ini dirancang agar setiap peserta dapat mengidentifikasi sikap intoleran dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, simulasi situasi konflik juga dilakukan untuk melatih kemampuan menyelesaikan masalah secara damai. Hasil awal menunjukkan peserta semakin peka terhadap nilai keberagaman. Efektivitas kegiatan ini terlihat dari antusiasme dan keterlibatan aktif para peserta.
Diskusi kelompok menjadi salah satu metode utama dalam edukasi ini. Peserta diminta untuk menganalisis kasus nyata yang menggambarkan konflik sosial. Mereka belajar bagaimana mengedepankan komunikasi yang baik untuk mengurangi ketegangan. Pendekatan praktis ini membantu peserta memahami konsekuensi dari sikap intoleran. Fasilitator memberikan bimbingan agar peserta dapat menemukan solusi yang adil dan konstruktif. Aktivitas permainan peran juga diterapkan untuk meningkatkan empati. Banyak peserta menyadari pentingnya mendengar perspektif orang lain sebelum membuat penilaian. Pembelajaran ini mendorong peserta untuk menerapkan sikap toleran dalam interaksi sehari-hari.
Selain diskusi, edukasi sosial ini juga menggunakan media kreatif. Peserta membuat poster dan video singkat yang mengangkat tema keberagaman. Kegiatan ini bertujuan untuk mengekspresikan pemahaman mereka secara visual. Kreativitas peserta terlihat dari ide-ide unik yang dihasilkan. Media kreatif ini mempermudah penyampaian pesan kepada orang lain. Produk yang dihasilkan kemudian dipresentasikan dan mendapat umpan balik dari kelompok lain. Proses ini meningkatkan rasa percaya diri peserta dalam menyuarakan nilai toleransi. Hasil karya ini sekaligus menjadi refleksi internal terhadap sikap mereka sendiri.
Kegiatan ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif. Peserta diajak melakukan proyek kecil di lingkungan sekitar. Mereka membantu menyelesaikan masalah sederhana yang memerlukan kerja sama. Proyek ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas kelompok. Peserta belajar bagaimana perbedaan dapat menjadi kekuatan jika dikelola dengan baik. Evaluasi dilakukan untuk mengukur perubahan sikap peserta setelah terlibat. Banyak yang menunjukkan peningkatan kemampuan berkomunikasi secara positif. Hal ini menjadi indikasi bahwa edukasi sosial mampu membangun toleransi secara nyata.
Akhir sesi ditutup dengan refleksi
bersama. Peserta berbagi pengalaman dan insight yang diperoleh selama kegiatan
berlangsung. Banyak yang menyatakan mendapat pemahaman baru tentang menghargai
perbedaan. Kegiatan ini diharapkan menumbuhkan sikap toleran yang
berkelanjutan. Umpan balik peserta menjadi dasar pengembangan program
berikutnya. Pengalaman ini mendorong mereka untuk menjadi agen perubahan di
lingkungan masing-masing. Kesadaran akan pentingnya toleransi semakin kuat di
antara peserta. Edukasi sosial seperti ini membuktikan bahwa pembelajaran
nilai-nilai kemanusiaan dapat dilakukan secara menyenangkan dan efektif.
Penulis: Hanaksa Erviga Putri Suprapto