From Skill to Pedagogy: Perkembangan Kompetensi Calon Guru SD melalui Integrasi Canva dalam Kurikulum Pendidikan
Perkembangan kompetensi calon guru sekolah dasar saat ini
tidak lagi hanya menilai kemampuan menyampaikan materi, tetapi juga mencakup
kapasitas dalam mendesain pengalaman belajar melalui teknologi visual seperti
Canva. Integrasi Canva menunjukkan pergeseran signifikan dari penguasaan alat
ke penguatan cara berpikir pedagogis berbasis visual dan kognitif anak. Dalam
fase awal, mahasiswa biasanya hanya menghasilkan produk estetis, namun melalui
pelatihan yang sistematis, mereka mulai memahami hubungan antara desain visual,
tujuan pembelajaran, dan karakteristik perkembangan siswa. Proses perkembangan
ini menunjukkan bahwa media digital tidak dapat berdiri sendiri tanpa penguatan
teori belajar dan psikologi pendidikan dasar. Penggunaan Canva yang awalnya
bersifat teknis berkembang menjadi strategi pedagogis yang dirancang
berdasarkan kebutuhan perkembangan kognitif anak usia sekolah dasar. Dengan
demikian, perkembangan kompetensi guru bukan sekadar “bisa menggunakan Canva”,
tetapi “mampu menerapkan Canva sesuai tahap perkembangan siswa”.
Dari perspektif perkembangan mahasiswa, penggunaan Canva
memberikan kesempatan untuk bergerak dari thinking in design menuju designing
for learning. Pada tahap awal, banyak mahasiswa merancang LKPD visual tanpa
mempertimbangkan beban kognitif siswa, namun seiring proses pembimbingan,
mereka mulai menyederhanakan informasi secara bertahap agar sesuai dengan
kemampuan pemrosesan anak. Peningkatan kualitas desain terjadi setelah
mahasiswa memahami bahwa visual harus memfasilitasi penerimaan informasi, bukan
mendistorsi fokus dengan ornamen berlebihan. Perkembangan kompetensi ini juga
terkait dengan pemahaman mengenai zona perkembangan proksimal (ZPD), di mana
desain Canva digunakan sebagai media scaffolding visual pembelajaran.
Pendekatan ini memperkuat kemampuan mahasiswa dalam merancang aktivitas yang
mendorong transisi dari bantuan visual menuju pemahaman mandiri. Dengan
demikian, perkembangan kompetensi guru melalui Canva berkorelasi dengan
pendalaman konsep pedagogis, bukan hanya reproduksi tampilan menarik.
Perkembangan penggunaan Canva juga berdampak pada kemampuan
mahasiswa PGSD dalam mengadaptasi materi berdasarkan kebutuhan perkembangan
emosional dan sosial siswa sekolah dasar. Pada fase lanjut, mahasiswa mulai
memasukkan elemen interaksi kolaboratif dalam desain media, seperti tugas
kelompok berbasis poster atau aktivitas refleksi melalui infografis. Hal ini
penting karena anak usia sekolah dasar belajar melalui pengalaman sosial dan
permainan, sehingga desain media tidak hanya bersifat informatif tetapi juga
memfasilitasi dinamika kelompok. Seiring pelatihan, mahasiswa belajar
menciptakan ruang emosi yang positif dalam pembelajaran melalui desain warna
netral dan narasi visual yang mendukung motivasi intrinsik. Perkembangan
kemampuan ini menunjukkan transformasi dari pembelajaran berbasis produk ke
pembelajaran berbasis pengalaman. Pada titik ini, Canva berfungsi sebagai
sarana untuk membangun sense of learning, bukan hanya sense of
decoration.
Penerapan Canva dalam perspektif perkembangan juga
memperkuat transisi mahasiswa dari pengguna teknologi menjadi perancang
instruksi berbasis bukti. Pada studi lanjutan, mahasiswa diminta melakukan uji
coba produk pembelajaran Canva pada anak SD untuk mengidentifikasi kesulitan
belajar dan tingkat keterlibatan siswa. Data observasi lapangan tersebut
digunakan untuk merevisi desain agar sesuai dengan orientasi perkembangan
belajar anak. Perubahan perilaku mahasiswa dari “menghasilkan media” menjadi
“mengembangkan media berulang” menunjukkan kemajuan signifikan dalam pemahaman
mereka tentang proses desain instruksional. Model ini mencerminkan pendekatan developmentally
appropriate practice, yaitu desain pembelajaran disesuaikan dengan usia,
konteks, dan kapasitas siswa. Dengan demikian, perkembangan kompetensi
mahasiswa PGSD melalui Canva dapat dipetakan dari level teknis menuju level
pedagogis berbasis evaluasi reflektif.
Secara keseluruhan, perkembangan kompetensi calon guru
sekolah dasar melalui penggunaan Canva harus dipandang dalam kerangka
longitudinal, bukan pelatihan jangka pendek. Tahap awal dimulai dari penguasaan
teknis aplikasi, kemudian berkembang menjadi pemahaman desain visual berbasis
kognitif, hingga akhirnya mencapai integrasi pedagogis sesuai karakteristik
perkembangan siswa. Proses ini harus disertai penilaian terstruktur, seperti
rubrik perkembangan yang mengukur produk desain, argumentasi pedagogis, dan
dampak lapangan. Perguruan tinggi perlu memastikan bahwa pelatihan Canva tidak
hanya mencetak guru yang pandai membuat visual, tetapi juga guru yang memahami
kapan dan untuk apa media visual digunakan. Dengan dukungan pembimbing,
kurikulum, dan praktik lapangan yang terpadu, integrasi Canva berpotensi
mempercepat perkembangan profesional guru masa depan. Pada akhirnya,
keberhasilan inovasi teknologi dalam pendidikan bergantung pada perkembangan
kemampuan guru, bukan kecanggihan medianya.
Penulis: Putri Arina Hidayati
Sumber Gambar: Google_ANTARA News