Gerakan Anti Perundungan Berhasil Membangun Budaya Sekolah Lebih Aman
pgsd.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Gerakan
anti perundungan menunjukkan hasil signifikan dengan meningkatnya rasa aman di
lingkungan belajar. Peserta didik merasa lebih percaya diri berinteraksi satu
sama lain setelah berbagai kegiatan pencegahan dilakukan secara konsisten.
Lingkungan belajar yang sebelumnya penuh kecemasan kini berubah menjadi ruang
yang lebih terbuka. Para pendidik melihat perubahan sikap yang lebih positif
dalam aktivitas harian. Kesadaran mengenai pentingnya saling menghargai semakin
menguat di antara peserta didik. Beragam program refleksi membantu mereka
memahami dampak perilaku negatif. Upaya ini juga menumbuhkan keberanian untuk
melapor ketika melihat tindakan yang tidak sesuai. Keseluruhan perubahan ini
memperlihatkan bahwa langkah kolektif mampu menciptakan suasana belajar yang
lebih aman.
Kegiatan kampanye
nilai-nilai saling menghormati menjadi pendorong utama transformasi sikap
peserta didik. Berbagai sesi diskusi rutin membantu mereka menyampaikan
pengalaman tanpa rasa takut. Lingkungan belajar menjadi tempat yang lebih
empatik karena semakin banyak yang memahami pentingnya menjaga kenyamanan
bersama. Pendidik melaporkan bahwa konflik kecil dapat diselesaikan lebih cepat
sebelum berkembang menjadi masalah besar. Program pendampingan sebaya juga
berperan dalam memperkuat komunikasi antar peserta didik. Mereka belajar
mengenali tanda-tanda perundungan dan cara memberikan dukungan. Tindakan
preventif yang diterapkan membuat peserta didik lebih berhati-hati dalam
bersikap. Perubahan ini terlihat dari turunnya keluhan terkait perilaku tidak
menyenangkan.
Pendekatan kolaboratif
menjadi faktor penting dalam keberhasilan gerakan ini. Peserta didik dilibatkan
secara langsung dalam merancang aktivitas yang mendorong kebiasaan positif.
Kegiatan kreatif seperti permainan peran dan simulasi membantu mereka memahami
konsekuensi dari tindakan merugikan. Setiap kegiatan dirancang agar mudah
dipahami dan relevan dengan kehidupan harian. Pembahasan mengenai empati,
toleransi, dan integritas dilakukan dengan cara yang menarik. Pendidik
mendampingi seluruh proses sehingga peserta didik dapat mengekspresikan
pendapatnya dengan bebas. Kolaborasi ini menghasilkan rasa memiliki terhadap
gerakan yang sedang dijalankan. Dampaknya, peserta didik lebih aktif menjaga
kenyamanan lingkungan belajar.
Pemantauan rutin
menjadi bagian penting untuk memastikan perubahan berjalan berkelanjutan.
Setiap temuan kecil terkait sikap tidak pantas langsung dibahas dengan
pendekatan yang mendorong perbaikan. Peserta didik diajak memahami bahwa
perubahan perilaku membutuhkan waktu dan komitmen. Catatan perkembangan
menunjukkan peningkatan interaksi positif dari waktu ke waktu. Pendidik melihat
bahwa peserta didik semakin mampu menyelesaikan masalah secara mandiri.
Kegiatan evaluasi dilakukan secara berkala untuk menilai efektivitas strategi
yang diterapkan. Hasil evaluasi menjadi dasar untuk pengembangan program
berikutnya. Dengan cara ini, gerakan terus menyesuaikan diri agar tetap relevan
dan efektif.
Seluruh rangkaian upaya
ini menunjukkan bahwa gerakan anti perundungan dapat membawa dampak nyata dalam
membangun budaya aman. Peserta didik merasa lebih dihargai dan didukung dalam
proses pembelajarannya. Lingkungan belajar yang sebelumnya penuh ketegangan
kini jauh lebih kondusif. Kebiasaan saling membantu tumbuh kuat dan menjadi
bagian dari identitas bersama. Setiap anggota komunitas belajar memahami
perannya dalam menjaga kenyamanan satu sama lain. Nilai-nilai positif semakin
mengakar seiring terbentuknya kebiasaan baru. Perubahan ini menjadi bukti bahwa
upaya kolektif mampu menciptakan ruang belajar yang sehat. Keberhasilan ini
juga mendorong semangat untuk mempertahankan budaya aman agar terus bertahan.
Penulis: Hanaksa Erviga Putri
Suprapto