Hubungan SDGs 1 dan SDGs 4 di Indonesia: Memutus Lingkaran Kemiskinan Melalui Pendidikan
Sustainable Development Goals (SDGs) 1 tentang Tanpa
Kemiskinan dan SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas memiliki hubungan yang
sangat erat dan saling mempengaruhi. Di Indonesia, keduanya menjadi pilar
fundamental untuk pembangunan berkelanjutan.
Memahami SDGs 1: Tanpa
Kemiskinan
SDGs 1 bertujuan mengakhiri kemiskinan dalam segala
bentuknya di mana pun. Bukan hanya tentang pendapatan, tetapi juga akses
terhadap layanan dasar, perlindungan sosial, dan ketahanan terhadap guncangan
ekonomi.
Target Utama SDGs 1:
● Mengurangi setidaknya setengah
proporsi penduduk yang hidup dalam kemiskinan pada 2030
● Menerapkan sistem perlindungan
sosial untuk semua
● Memastikan semua orang memiliki hak
yang sama terhadap sumber daya ekonomi
● Membangun ketahanan masyarakat
miskin dan rentan
Data Kemiskinan Indonesia
Terkini
Tren Kemiskinan Indonesia (2019-2024):
|
Periode |
Jumlah Penduduk Miskin |
Persentase |
Perubahan |
|
Maret 2019 |
25.14 juta |
9.41% |
- |
|
Maret 2020 |
26.42 juta |
9.78% |
↑ 0.37% |
|
Maret 2021 |
27.54 juta |
10.14% |
↑ 0.36% |
|
Maret 2022 |
26.16 juta |
9.54% |
↓ 0.60% |
|
Maret 2023 |
25.90 juta |
9.36% |
↓ 0.18% |
|
Maret 2024 |
25.22 juta |
9.03% |
↓ 0.33% |
|
September 2024 |
24.06 juta |
8.57% |
↓ 0.46% |
September 2024 mencatat angka kemiskinan terendah dalam
sejarah Indonesia sejak data pertama kali dirilis BPS pada 1960. Ini adalah
pencapaian luar biasa, namun masih ada 24 juta jiwa yang perlu dibantu keluar
dari kemiskinan.
Korelasi Kuat:
Pendidikan dan Kemiskinan
Data Tingkat Pendidikan dan Status Ekonomi:
|
Tingkat Pendidikan |
Tingkat Kemiskinan |
Rata-rata Pendapatan |
Tingkat Pengangguran |
|
Tidak Sekolah/Tidak Tamat SD |
24.5% |
Rp 1.8 juta/bulan |
8.2% |
|
SD/Sederajat |
15.3% |
Rp 2.4 juta/bulan |
6.8% |
|
SMP/Sederajat |
11.2% |
Rp 3.1 juta/bulan |
5.9% |
|
SMA/Sederajat |
7.8% |
Rp 4.2 juta/bulan |
4.5% |
|
Diploma/Sarjana |
2.1% |
Rp 6.8 juta/bulan |
2.3% |
Data menunjukkan korelasi negatif yang sangat jelas: semakin
tinggi tingkat pendidikan, semakin rendah tingkat kemiskinan. Penduduk dengan
pendidikan rendah memiliki risiko kemiskinan lebih dari 10 kali lipat dibanding
mereka yang berpendidikan tinggi.
Lingkaran Setan
Kemiskinan dan Pendidikan
Bagaimana Kemiskinan Mempengaruhi Akses Pendidikan:
|
Dampak Kemiskinan |
Konsekuensi Pendidikan |
Persentase Terpengaruh |
|
Keterbatasan Biaya |
Anak putus sekolah atau tidak melanjutkan |
42% anak miskin |
|
Malnutrisi |
Gangguan kognitif dan konsentrasi belajar |
35% anak miskin |
|
Bekerja Sejak Dini |
Waktu belajar berkurang drastis |
28% anak miskin |
|
Fasilitas Tidak Memadai |
Tidak ada akses buku, internet, atau ruang belajar |
67% anak miskin |
|
Tinggal di Daerah Terpencil |
Akses sekolah berkualitas sangat terbatas |
54% anak miskin |
|
Pernikahan Dini |
Pendidikan terputus, terutama perempuan |
18% anak perempuan miskin |
Bagaimana Pendidikan Rendah Memperpanjang Kemiskinan:
|
Faktor |
Dampak pada Kemiskinan |
Data Pendukung |
|
Keterampilan Terbatas |
Hanya bisa mengakses pekerjaan rendah upah |
73% pekerja tidak terampil miskin |
|
Kesadaran Kesehatan Rendah |
Biaya kesehatan tinggi, produktivitas turun |
2x lebih sering sakit |
|
Pengelolaan Keuangan Buruk |
Sulit menabung dan berinvestasi |
89% tidak memiliki tabungan |
|
Akses Informasi Terbatas |
Tidak tahu program bantuan atau peluang usaha |
65% tidak tersentuh program |
|
Regenerasi Kemiskinan |
Anak-anak mewarisi kondisi kemiskinan orang tua |
78% anak tetap miskin |
Program Indonesia
Memutus Lingkaran Setan
Integrasi SDGs 1 dan SDGs 4:
|
Program |
Target SDGs |
Sasaran |
Capaian 2024 |
|
Program Indonesia Pintar (PIP) |
SDGs 4 |
17.9 juta siswa miskin |
15.2 juta terlayani (85%) |
|
Program Keluarga Harapan (PKH) |
SDGs 1 & 4 |
10 juta keluarga miskin |
10.2 juta terlayani (102%) |
|
Bantuan Operasional Sekolah (BOS) |
SDGs 4 |
Semua sekolah negeri |
100% sekolah terlayani |
|
Kartu Sembako |
SDGs 1 |
18.8 juta keluarga miskin |
18.8 juta terlayani (100%) |
|
Beasiswa Bidikmisi/KIP Kuliah |
SDGs 4 |
687,000 mahasiswa |
710,000 terlayani (103%) |
|
Sekolah Rakyat |
SDGs 1 & 4 |
500 sekolah untuk putus kemiskinan |
166 sudah berdiri (33%) |
Studi Kasus:
Keberhasilan Memutus Kemiskinan Lewat Pendidikan
Kisah Agregat dari Data IFLS (Indonesia Family Life Survey):
Penelitian menggunakan data IFLS dari 1993-2014 menunjukkan
bahwa 33 persen individu yang awalnya miskin berhasil keluar dari kemiskinan.
Faktor penentu terbesar adalah pendidikan:
● Individu dengan pendidikan
diploma/sarjana memiliki peluang 4.2 kali lebih tinggi keluar dari kemiskinan
● Setiap tambahan satu tahun
pendidikan meningkatkan peluang keluar dari kemiskinan sebesar 8.7 persen
● Kualitas pendidikan lebih penting
dari kuantitas tahun sekolah
● Pendidikan orang tua sangat
mempengaruhi akses pendidikan anak
Tantangan Sinergi SDGs 1
dan SDGs 4 di Indonesia
|
Tantangan |
Dampak |
Solusi yang Dibutuhkan |
|
Kesenjangan Wilayah |
Papua memiliki kemiskinan 18.6%, Jakarta 4.5% |
Alokasi anggaran berbasis kebutuhan daerah |
|
Kualitas Guru di Daerah Miskin |
43% guru tidak memenuhi standar kompetensi |
Insentif khusus dan pelatihan intensif |
|
Putus Sekolah |
4.3% anak usia sekolah tidak bersekolah |
Identifikasi dini dan intervensi keluarga |
|
Infrastruktur Sekolah |
28% sekolah di daerah miskin rusak berat |
Rehabilitasi prioritas sekolah di daerah 3T |
|
Biaya Tersembunyi |
Biaya transport, seragam tetap memberatkan |
Bantuan tunai tanpa syarat untuk keluarga miskin |
Rekomendasi Kebijakan
Terintegrasi
Untuk Mencapai SDGs 1 dan SDGs 4 Secara Bersamaan:
1. Pendidikan Gratis Sejati Tidak hanya bebas SPP, tetapi juga
mencakup buku, seragam, transportasi, dan makan siang gratis untuk semua anak
dari keluarga miskin. Program ini sudah berhasil di negara-negara seperti
Finlandia dan Brasil.
2. Beasiswa Bersyarat yang Diperluas Program seperti PKH sudah bagus,
tetapi perlu diperluas dengan syarat yang lebih ketat pada kehadiran sekolah
dan prestasi akademik minimal. Dana lebih besar untuk keluarga yang anaknya melanjutkan
ke pendidikan tinggi.
3. Sekolah Vokasi Terintegrasi Industri Membuka jalur alternatif bagi siswa
dari keluarga miskin untuk langsung mendapat keterampilan yang dibutuhkan pasar
kerja, dengan jaminan penempatan kerja setelah lulus.
4. Guru untuk Indonesia Program khusus merekrut dan melatih
guru terbaik untuk ditempatkan di daerah termiskin dengan insentif finansial
yang menarik dan jalur karir yang jelas.
5. Teknologi sebagai Penyetara Investasi besar dalam internet dan
perangkat digital di daerah miskin dapat memberikan akses yang sama ke sumber
belajar berkualitas sebagaimana anak-anak di kota besar.
Dampak Jangka Panjang:
Proyeksi 2030
Jika Indonesia berhasil mengintegrasikan upaya pencapaian
SDGs 1 dan SDGs 4, proyeksi untuk 2030:
|
Indikator |
Kondisi Saat Ini (2024) |
Target 2030 |
Dampak Integrasi |
|
Tingkat Kemiskinan |
8.57% |
< 4% |
Pendidikan tinggi = kemiskinan turun drastis |
|
Partisipasi SMA |
78% |
95% |
Bantuan pendidikan mengurangi putus sekolah |
|
Skor PISA |
366 (Math) |
420 |
Siswa sehat dan sejahtera belajar lebih baik |
|
IPM Indonesia |
74.39 |
80+ |
Pendidikan dan ekonomi saling memperkuat |
|
Kemiskinan Ekstrem |
5.4% |
< 2% |
Akses pendidikan memutus kemiskinan turun-temurun |
Kesimpulan: Investasi
Ganda untuk Masa Depan
Kemiskinan dan pendidikan adalah dua sisi mata uang yang
sama. Tidak mungkin mengatasi kemiskinan tanpa memperbaiki pendidikan, dan
sulit meningkatkan kualitas pendidikan tanpa mengatasi kemiskinan. Sinergi antara
SDGs 1 dan SDGs 4 bukan pilihan, tetapi keharusan.
Indonesia telah menunjukkan komitmen kuat dengan berbagai
program terintegrasi. Angka kemiskinan terendah dalam sejarah dan peningkatan
akses pendidikan adalah bukti nyata. Namun, perjalanan masih panjang.
Yang dibutuhkan adalah konsistensi, peningkatan kualitas
program, dan pastikan tidak ada anak Indonesia yang kehilangan masa depannya
karena terlahir dalam kemiskinan. Pendidikan adalah tangga keluar dari
kemiskinan, dan Indonesia harus memastikan tangga itu kokoh, dapat diakses
semua orang, dan membawa mereka ke kehidupan yang lebih baik.
Investasi dalam pendidikan anak-anak miskin hari ini adalah
investasi dalam kemakmuran Indonesia di masa depan. Setiap rupiah yang dikeluarkan
untuk memutus lingkaran kemiskinan melalui pendidikan akan kembali berlipat
ganda dalam bentuk produktivitas, inovasi, dan kesejahteraan masyarakat. Inilah
esensi pembangunan berkelanjutan yang sesungguhnya.
Oleh : Syafrizal Isnain Maulana