Jangan Anggap Remeh! Ini Bedanya Burnout dan Lelah Biasa di Dunia Perkuliahan
Pernah nggak merasa capek yang dalam sekali? Bukan
capek fisik karena olahraga, tapi capek mental yang bikin kamu ogah buka
laptop, lihat tugas-tugas yang numpuk, dan rasanya semua hal kehilangan
warnanya. Kamu mungkin masih bisa beraktivitas, tapi seperti robot tanpa gairah
dan motivasi. Hati-hati, itu bukan sekadar "minggu yang sibuk". Bisa
jadi kamu mengalami burnout akademik. Yuk, kenali tanda-tandanya sebelum kamu
benar-benar kehabisan baterai dan mogok total di tengah jalan!
1. Burnout vs Lelah Biasa: Kenali
Bedanya!
Ini penting
banget, biar kamu nggak salah kaprah.
1)
Lelah Biasa: Bersifat sementara. Setelah istirahat semalam
atau liburan weekend, kamu biasanya merasa segar kembali dan siap menghadapi
tantangan.
2)
Burnout: Bersifat kronis dan menetap. Istirahat sehari dua
hari tidak cukup untuk mengisi ulang energimu. Rasanya seperti baterai ponsel
yang rusak—dicas berapa lama pun, dayanya cepat habis.
2. 5 Tanda Utama Kamu Mengalami Burnout,
Bukan Cuma “Lelah”
Cek, berapa banyak yang kamu alami?
1)
Kehilangan Minat & Sinisme:
Hal-hal yang dulu kamu sukai seperti
mata kuliah favorit atau organisasi kampus, sekarang terasa membosankan dan
meaningless. Kamu jadi sinis dan pesimis, sering kali dengan pikiran,
"Ngapain juga sih semua ini? Ujung-ujungnya nggak ada gunanya."
2)
Penurunan Performa Akademik yang Drastis:
Ini bukan sekadar dapat nilai B.
Tapi, nilai yang anjlok dari yang biasanya A ke C atau D. Kamu kesulitan
konsentrasi, mengingat materi, dan motivasi untuk mengerjakan tugas dengan baik
benar-benar hilang.
3)
Kelelahan Emosional & Fisik yang Terus-Menerus:
Kamu bangun tidur sudah merasa lelah.
Segala hal terasa menguras energi, bahkan hal-hal sederhana seperti mandi atau
pergi ke warung. Sering diiringi keluhan fisik seperti sakit kepala, sakit
perut, atau gampang sakit.
4)
Perasaan Tidak Berdaya & Tidak Produktif:
Meskipun kamu sibuk, kamu merasa
tidak menyelesaikan apa-apa. Ada perasaan gagal dan tidak kompeten yang terus
menghantui. To-do list-mu makin panjang, tapi semangat untuk mencentangnya
hilang.
5)
Menarik Diri Secara Sosial:
Kamu menolak ajakan nongkrong,
meninggalkan grup chat, atau tidak lagi menghadiri pertemuan organisasi. Kamu
lebih memilih menyendiri karena interaksi sosial terasa terlalu melelahkan.
3. “Aku Burnout, Sekarang
Bagaimana?” 5 Langkah untuk ‘Nge-charge’ Kembali
Kalau kamu mengenali tanda-tanda di
atas, jangan panik. Burnout itu bisa diatasi, kok. Ini langkah-langkahnya:
1)
Akui dan Validasi Perasaanmu
Langkah pertama dan terpenting adalah
berhenti menyangkal dan menyalahkan diri sendiri. Katakan pada dirimu,
"Aku sedang burnout, dan itu okay. Ini adalah respons yang wajar terhadap
tekanan yang berlebihan." Pengakuan ini akan meringankan bebannya.
2)
Lakukan 'Digital Detox' Akademik
Beri dirimu jeda. Bukan libur semester,
tapi tentukan waktu-waktu bebas kuliah. Misal, dari jam 7 malam sampai tidur,
tidak boleh buka laptop tugas, buka classroom, atau mikirin kuliah. Isi waktu
itu dengan hal yang benar-benar menyenangkan dan tidak ada hubungannya dengan
akademik.
3)
Turunkan Ekspektasi & "Cukup Sudah Cukup"
Kamu tidak harus jadi mahasiswa
sempurna dengan IPK 4.0, aktif berorganisasi, dan punya side project. Izinkan
dirimu untuk mendapatkan nilai B atau C. Kerjakan tugas dengan prinsip
"done is better than perfect". Lepaskan tekanan untuk menjadi yang
terbaik di segala hal.
4)
Cari Dukungan, Jangan Dipendam Sendiri
Ceritakan kondisimu pada orang yang
kamu percaya—bisa teman dekat, keluarga, atau pasangan. Kadang, mengungkapkannya
saja sudah bisa meringankan beban. Jika memungkinkan, kunjungi layanan
konseling kampus (UICC). Mereka adalah profesional yang siap membantumu tanpa
menghakimi.
5)
Temukan Kembali "Hal Kecil" yang Menyenangkan
Paksa dirimu untuk melakukan hobi
yang sudah lama ditinggalkan. Dengarkan album favorit dari awal sampai akhir,
gambar, masak, atau sekadar jalan-jalan di taman tanpa tujuan. Ini bukan
buang-buang waktu, ini adalah terapi untuk mengingatkan otakmu akan perasaan
senang yang bukan berasal dari pencapaian akademis.
Burnout adalah Tanda, Bukan Kegagalan
Burnout adalah sinyal alarm dari tubuh dan pikiranmu
yang mengatakan, "Hei, sistemnya kelebihan beban! Butuh istirahat dan
perubahan!" Mengalaminya bukan berarti kamu lemah atau tidak mampu.
Justru, ini adalah kesempatan untuk belajar mendengarkan tubuhmu dan membangun
hubungan yang lebih sehat dengan tuntutan akademis. Kuliah adalah sebuah
marathon, bukan sprint. Merawat kesehatan mentalmu bukanlah pengalihan dari
tujuan akademismu, melainkan fondasi untuk mencapainya dengan selamat dan
bahagia.
Jika kamu merasa artikel ini menggambarkan dirimu,
ambil napas dalam-dalam. Hari ini, izinkan dirimu untuk beristirahat tanpa rasa
bersalah. Kamu layak untuk itu.
Penulis: Nindi Aliefia Risavanna