Jangan Bandingkan Bab 1 kita dengan Bab 20 Orang Lain
Sebagai mahasiswa, kita hidup di lingkungan yang penuh tuntutan dan pembanding. Tanpa disadari, pikiran sering membandingkan perjalanan kuliah atau hidup kita dengan orang lain. Ada teman yang sudah magang di perusahaan besar, ada yang aktif organisasi, ada yang punya IPK sempurna, bahkan ada yang sudah mulai usaha dan menghasilkan uang sendiri. Di saat yang sama, mungkin kita masih berjuang memahami mata kuliah, bingung mau ambil arah apa, atau sekadar mencoba bertahan dari tugas yang tidak ada habisnya.
Melihat keberhasilan orang lain kadang terasa memotivasi, tetapi sering juga terasa berat. Ada perasaan seolah-olah kita tertinggal, tidak cukup baik, dan tidak berkembang secepat orang lain. Padahal apa yang kita lihat hanyalah bagian yang tampak. Kita tidak melihat kegagalan, lembur, kecemasan, atau proses panjang dibalik pencapaian mereka. Yang terlihat hanya hasil akhirnya, bukan perjalanan yang mereka lalui.
Setiap orang punya garis start dan jalur perjalanan yang berbeda. Ada yang sejak awal punya dukungan keluarga, akses pendidikan tambahan, atau jaringan yang luas. Ada juga yang harus berjuang dari nol, sambil bekerja, sambil belajar, atau bahkan sambil menghadapi masalah pribadi. Perbandingan terasa tidak adil jika kita hanya melihat hasil tanpa melihat konteks.
Membandingkan diri dengan orang lain terlalu sering bisa memengaruhi kesehatan mental. Banyak mahasiswa mulai merasa tidak cukup, mulai meragukan kemampuan diri sendiri, dan mulai kehilangan motivasi. Tugas yang sebenarnya bisa dikerjakan terasa berat karena pikiran dipenuhi perasaan tidak mampu menyamai pencapaian orang lain. Padahal, kemampuan berkembang tidak selalu datang cepat. Beberapa hal memang butuh waktu.
Perjalanan kuliah bukan perlombaan siapa yang paling cepat selesai atau paling banyak prestasi. Yang lebih penting adalah bagaimana kita tumbuh, belajar, dan memahami diri sendiri sepanjang proses itu berlangsung. Setiap langkah kecil seperti memahami satu konsep baru, meningkatkan cara belajar, atau lebih berani berbicara di kelas adalah bentuk kemajuan.
Daripada sibuk membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik fokus membandingkan diri sendiri dengan diri kita yang dulu. Apakah kita sudah sedikit lebih baik hari ini? Apakah ada perkembangan, sekecil apa pun itu? Penghargaan pada langkah kecil akan membuat kita lebih tenang menjalani proses.
Kuliah adalah perjalanan panjang. Tidak apa-apa jika belum menemukan arah. Tidak apa-apa jika belum tahu rencana setelah lulus. Tidak apa-apa jika belum mencapai apa yang orang lain capai. Yang penting kita tidak berhenti belajar dan mencoba.
Jika suatu hari kamu melihat pencapaian temanmu lalu merasa tertinggal, ingatlah satu hal. Kamu sedang menulis bab yang berbeda dari mereka. Kamu tidak harus menyamai langkah mereka. Kamu cukup terus berjalan dengan ritmemu sendiri. Karena setiap orang punya waktunya. Dan kalau hari ini masih terasa berat, itu bukan berarti gagal. Itu hanya berarti prosesnya masih berjalan.
Penulis : Hafizh Muhammad Ridho