Jangan Ditahan! Ternyata Menangis dan Marah adalah “Teman Baik” untuk Kesehatan Mentalmu
Kita sering diajari untuk selalu kuat. "Jangan
cengeng," "Anak gaul gak boleh gampang marah," atau "Move
on aja, lah!" adalah kalimat yang mungkin sering kita dengar. Akibatnya,
kita menjadikan menangis dan marah sebagai musuh, sesuatu yang harus
disembunyikan dan ditahan mati-matian. Padahal, dengan memendamnya, kita justru
menyimpan "bom waktu" emosional dalam diri. Sains membuktikan,
menangis dan marah yang diekspresikan dengan sehat bukanlah tanda kelemahan,
melainkan bentuk Kecerdasan Emosional. Yuk, kita kupas mengapa kedua emosi ini
justru penting untuk kesehatan mental kita.
1. Menangis Bukan Kelemahan,
Tapi Mekanisme Penyembuhan Alami
Air mata sering dianggap sebagai
simbol kelemahan. Faktanya, menangis adalah respons alami tubuh yang punya
fungsi biologis dan psikologis yang luar biasa.
Apa kata sains?
1)
Mengeluarkan Racun Stres: Dr. William H. Frey II menemukan
bahwa air mata yang keluar karena emosional (bukan karena iritasi) mengandung
hormon stres seperti kortisol. Artinya, saat kamu menangis, kamu sedang
mengeluarkan racun stres dari tubuhmu!
2)
Merilis "Obat Pereda" Alami: Menangis memicu otak
untuk melepaskan endorfin dan oksitosin, yaitu hormon yang dapat meningkatkan
perasaan tenang, bahagia, dan mengurangi rasa sakit fisik maupun emosional.
Inilah sebabnya kamu sering merasa lebih lega setelah "mencucurkan air
mata".
3)
Sinyal untuk Mendapat Dukungan: Menangis adalah sinyal
nonverbal yang kuat kepada orang di sekitarmu bahwa kamu butuh pertolongan atau
penghiburan. Ini memperkuat ikatan sosial dan memudahkanmu mendapatkan
dukungan.
Kesimpulannya, menangis adalah cara
tubuh dan pikiranmu untuk "reset" dan memulihkan diri.
2. Marah yang Sehat: Pemecah
Masalah, Bukan Pembuat Masalah
Marah punya reputasi yang buruk.
Padahal, marah adalah emosi normal yang memberi tahu kita bahwa ada sesuatu
yang tidak beres, batasan kita dilanggar, atau kita merasa diperlakukan tidak
adil.
Bedakan antara marah
destruktif dan marah konstruktif:
1)
Marah Destruktif: Ditahan sampai meledak-ledak, disalurkan
dengan membanting barang, menyakiti orang lain, atau menyakiti diri sendiri.
2)
Marah Konstruktif: Diakui, dirasakan, lalu diekspresikan
dengan cara yang jelas dan tegas tanpa melukai siapapun.
Manfaat marah konstruktif:
1)
Pendorong Perubahan: Rasa marah karena diperlakukan tidak
adil bisa memotivasimu untuk membela diri, berbicara lantang, atau mencari
solusi dari masalah.
2)
Memberi Kejelasan: Saat marah, kamu sering jadi lebih jelas
tentang apa yang benar-benar penting bagimu dan apa batasan yang tidak boleh
dilanggar orang lain.
3)
Meningkatkan Energi: Marah membanjiri tubuh dengan adrenalin
yang bisa memberimu energi dan keberanian untuk menghadapi situasi yang
menantang.
3. Bahaya Memendam: Bom Waktu
Emosional yang Siap Meledak
Ketika kita terus-menerus menahan
tangis dan amarah, emosi itu tidak hilang begitu saja. Mereka menumpuk di dalam
"basement" pikiran bawah sadar dan bisa meledak kapan saja,
atau berubah bentuk menjadi:
1)
Kecemasan dan Panic Attack: Emosi yang tertahan sering
kali muncul sebagai rasa cemas yang tidak jelas sumbernya.
2)
Gejala Fisik (Psikosomatis): Sakit kepala, sakit mag,
nyeri punggung, dan mudah lelah bisa jadi adalah teriakan tubuhmu yang tidak
bisa mengungkapkan emosinya.
3)
Apatis dan Depresi: Perasaan datar, hampa, dan tidak peduli
bisa jadi adalah akibat dari terlalu banyak emosi yang dipendam sampai akhirnya
mati rasa.
4)
Ledakan Emosi yang Tidak Proporsional: Marah karena hal
sepele seperti sendok jatuh, yang sebenarnya adalah akumulasi dari semua emosi
yang belum pernah diluapkan.
4. Cara “Melepas” yang Sehat: Let
It Flow, Don’t Let It Explode
Lalu, bagaimana cara melepaskan emosi
dengan sehat?
1)
Untuk Menangis: Cari ruang yang aman dan nyaman. Biarkan air
matamu mengalir tanpa menghakimi diri sendiri. Katakan, "Aku sedang sedih,
dan tidak apa-apa untuk menangis." Setelah selesai, beri diri sendiri
penghiburan, misalnya dengan memeluk bantal atau minum teh hangat.
2)
Untuk Marah: Jangan meledak. Alihkan dulu dengan:
1. Teknik Fisik: Meninju bantal,
olahraga (lari, boxing), atau berteriak di tempat yang sepi.
2.
Teknik Kreatif: Menulis jurnal dengan segala kata-kata kasar
yang ingin kamu ucapkan, atau menggambar coretan-coretan abstrak.
3.
Teknik Komunikasi Asertif: Setelah reda, sampaikan perasaanmu
dengan kalimat "Saya": "Saya merasa marah ketika [perilaku
spesifik] terjadi, karena [dampaknya pada saya]." Contoh: "Saya
merasa marah ketika janji kita dibatalkan di menit terakhir, karena saya sudah
menyiapkan waktu khusus."
Jadilah Sahabat bagi Emosimu Sendiri
Menangis dan marah adalah bagian dari being human.
Mereka adalah alarm alami yang memberitahumu bahwa ada yang perlu diperhatikan
dalam dirimu. Daripada berperang melawannya, cobalah untuk menerima dan
mengizinkan mereka mengalir dengan cara yang aman. Dengan belajar mendengarkan
emosi-emosi yang "tidak nyaman" ini, kamu justru sedang melangkah
menuju versi dirimu yang lebih utuh, tangguh, dan sehat secara mental. Jadi,
lain kali kamu merasa ingin menangis atau marah, ingatkan dirimu: "Let
it flow." Izinkan dirimu untuk merasa, agar kamu bisa benar-benar
sembuh.
Bagikan artikel ini ke seseorang yang mungkin selama
ini terlalu keras pada dirinya sendiri. Siapa tahu, mereka butuh
"izin" untuk melepaskan segalanya.
Penulis: Nindi Aliefia Risavanna