Kedewasaan: Perspektif Sederhana dalam Perenungan
Kedewasaan
sering kali tidak muncul sebagai sesuatu yang megah; ia hadir diam-diam melalui
keputusan kecil yang harus kita ambil setiap hari. Semakin bertambah usia,
hidup seakan memaksa kita memahami bahwa tidak semua hal bisa kita kontrol, dan
tidak semua harapan harus dipenuhi saat itu juga. Ada tanggung jawab yang
menumpuk, ada mimpi yang harus dirawat, dan ada luka yang harus disembuhkan
perlahan. Di tengah semua itu, kita belajar bahwa kedewasaan bukan sekadar soal
umur, tetapi keberanian untuk menghadapi kenyasiap walaupun seringkali diri ini
belum sepenuhnya siap.
Di
sela kesibukan dunia perkuliahan, mungkin dengan duduk di pinggir jalanan
sehabis Isya bersama teh gelas seribuan memberi sedikit ruang yang rasanya
sangat melegakan. Ditemani minuman sederhana dan tempat kendaraan yang berlalu
lalang justru menjadi ruang untuk sedikit bernafas lega merilekskan isi kepala
yang penuh. Setelah tegukan demi tegukan, perhatian diri ini perlahan beralih
pada perenungan tentang hidup: tentang arah yang sedang ditempuh, tentang
hal-hal yang ingin diperbaiki, dan tentang diri sendiri yang terus berusaha
bertahan. Dalam momen tenang itu, saya sadar bahwa hidup tidak selalu harus
cepat atau penuh pencapaian. Kadang, kedewasaan justru ditemukan di momen
paling sederhana; ketika kita berhenti sejenak, menenangkan hati, dan berani
melihat kehidupan apa adanya sebelum melangkah lagi.
(red/muallimshir24_)