Kelas SD vs Mahasiswa Teknik: Ketika Logika Bertemu Tingkah Laku Anak
pgsd.fip.unesa.ac.id,
Surabaya - Di
dunia akademik, mahasiswa teknik terbiasa dengan logika, rumus, dan perhitungan
yang sistematis. Namun, ketika mereka memasuki kelas Sekolah Dasar (SD) untuk
mengajar, segala sesuatu yang sudah mereka pelajari tentang “aturan” dan
“logika” sering diuji oleh sesuatu yang tak terduga: tingkah laku anak-anak.
Awalnya, mahasiswa teknik mungkin
berpikir bahwa mengajar hanyalah soal menjelaskan materi dengan tepat dan
terstruktur. Namun, kenyataan di kelas SD berbeda. Anak-anak bergerak,
bercanda, mengajukan pertanyaan tak terduga, atau bahkan tiba-tiba mengalihkan
perhatian teman sekelas. Di sinilah logika yang selama ini diandalkan mahasiswa
diuji. Teori yang sempurna di buku seringkali tidak berjalan mulus di lapangan.
Tantangan terbesar adalah menjaga
konsentrasi anak-anak sambil tetap menyampaikan materi. Mahasiswa harus belajar
fleksibel, menyesuaikan metode, dan kadang mengubah strategi seketika.
Misalnya, saat eksperimen sederhana gagal karena anak-anak tidak mengikuti
instruksi dengan tepat, mahasiswa teknik harus cepat menemukan cara agar
pembelajaran tetap menarik tanpa kehilangan kontrol kelas.
Selain itu, kesabaran menjadi kunci.
Mahasiswa belajar menghadapi kebingungan, kekacauan, dan tingkah laku anak yang
sulit ditebak. Setiap interaksi adalah kombinasi antara mengajar, mendidik, dan
memahami psikologi anak. Ini bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, tetapi juga
tentang mengelola energi dan emosi sendiri.
Di balik tantangan itu, ada
pengalaman berharga. Mahasiswa teknik belajar bahwa logika dan teori saja tidak
cukup; kreativitas, empati, dan kesabaran adalah bagian penting dari proses
mengajar. Anak-anak SD, dengan rasa ingin tahu dan keceriaan mereka, justru
mengajarkan mahasiswa tentang fleksibilitas dan cara berpikir di luar kotak.
Akhirnya, pertemuan antara logika
mahasiswa teknik dan tingkah laku anak SD menghasilkan pengalaman unik:
mahasiswa belajar lebih sabar, kreatif, dan adaptif, sementara anak-anak
mendapatkan pembelajaran yang lebih menyenangkan dan interaktif. Kelas SD pun
menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa teknik, tempat teori diuji oleh
realita yang penuh warna dan tak terduga.
Penulis : Salsabila Ramadani Firdaus