KENALI RED FLAGS PADA PERKEMBANGAN ANAK: BEKAL PENTING MAHASISWA PGSD
Perkembangan anak usia sekolah dasar
tidak selalu berjalan mulus, dan setiap guru perlu memahami tanda-tanda yang
mengindikasikan adanya masalah. Data WHO menunjukkan bahwa sekitar 15–20% anak
di dunia mengalami hambatan perkembangan yang sering tidak terdeteksi pada usia
dini. Di Indonesia, laporan IDAI tahun 2022 mengungkapkan bahwa banyak kasus
keterlambatan bicara, kesulitan belajar, hingga gangguan perilaku baru disadari
setelah anak memasuki sekolah dasar. Kondisi ini sering terjadi karena kurangnya
pemahaman orang dewasa mengenai red flags perkembangan. Mahasiswa PGSD
sebagai calon guru perlu memiliki bekal sejak dini untuk memahami gejala-gejala
tersebut. Kesadaran ini penting agar masalah perkembangan anak dapat ditangani
lebih cepat.
Red flags perkembangan tidak hanya
berhubungan dengan kemampuan akademik, tetapi juga aspek sosial, emosional,
motorik, dan komunikasi. Misalnya, anak yang sulit berinteraksi, tidak fokus
dalam waktu lama, atau sangat mudah marah bisa menunjukkan tanda adanya hambatan
perkembangan. Guru yang memahami hal ini dapat melakukan observasi dini sebelum
masalah semakin kompleks. Selain itu, mahasiswa PGSD perlu mengetahui perbedaan
antara variasi perkembangan normal dengan gejala yang perlu diwaspadai.
Pengetahuan ini akan memudahkan mereka mengidentifikasi siswa yang membutuhkan
perhatian khusus. Dengan begitu, guru dapat lebih tepat memberikan dukungan di
kelas.
Mahasiswa PGSD dapat mempelajari red
flags perkembangan melalui buku ajar, pelatihan, maupun platform digital
terpercaya. Mereka juga perlu melakukan simulasi observasi selama praktik
lapangan di sekolah dasar. Kemampuan melihat pola perilaku, respons anak, dan
perkembangan keterampilan dasar sangat penting untuk mengidentifikasi masalah
sedini mungkin. Selain itu, mahasiswa perlu dilatih membuat catatan
perkembangan yang sistematis agar lebih mudah menentukan tindak lanjut.
Pembelajaran berbasis studi kasus juga dapat membantu mahasiswa memahami
berbagai variasi kondisi perkembangan anak. Dengan pemahaman mendalam, calon
guru bisa lebih sensitif dan terampil dalam menghadapi situasi nyata di kelas.
Jika sebuah red flag ditemukan, guru
tidak bekerja sendiri tetapi harus berkolaborasi dengan orang tua dan pihak
sekolah. Komunikasi yang baik membantu guru menyampaikan temuan secara
bijaksana tanpa membuat orang tua merasa disalahkan. Guru dapat merekomendasikan
pemeriksaan lanjutan kepada psikolog, terapis, atau dokter anak jika
dibutuhkan. Pendekatan kolaboratif ini memastikan anak mendapatkan dukungan
komprehensif dari lingkungan rumah maupun sekolah. Selain itu, guru dapat
menerapkan strategi pembelajaran diferensiasi untuk membantu anak tetap
berkembang. Upaya bersama ini menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih
inklusif dan responsif terhadap kebutuhan anak.
Sebagai kesimpulan, memahami red
flags perkembangan merupakan bekal berharga bagi mahasiswa PGSD sebagai
calon guru sekolah dasar. Pengetahuan ini membantu mereka mendeteksi masalah
perkembangan sejak dini sehingga intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan
tepat. Pembelajaran inklusif dan kolaboratif menjadi kunci dalam memberikan
dukungan terbaik bagi anak yang mengalami hambatan. Rekomendasi ke depan adalah
agar kampus PGSD memperkuat materi pendidikan kebutuhan khusus dan asesmen
perkembangan dalam kurikulum. Mahasiswa juga perlu aktif mencari referensi dan
mengikuti pelatihan untuk memperluas pemahaman mereka. Dengan guru yang peka
dan terampil, anak-anak Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh
optimal sesuai potensinya.
Penulis: Etika Meilani