Ketika Budaya "Tidak Enakan" Menghambat Keberanian Berpendapat
Di Indonesia, ada satu sikap yang sejak kecil terus diajarkan dalam keluarga, sekolah, hingga lingkungan sosial, yaitu sopan santun. Nilai ini tentu penting karena membantu menjaga hubungan sosial agar tetap harmonis. Namun, dalam praktiknya, konsep sopan sering kali berubah menjadi sikap diam. Banyak anak muda tumbuh dengan keyakinan bahwa berbicara terlalu jujur dianggap tidak sopan, menolak dianggap tidak menghormati, dan mengemukakan pendapat berbeda bisa dianggap tidak tahu diri.
Akibatnya, lahirlah generasi yang penuh ide tetapi ragu menyuarakannya. Di kelas, siswa tahu jawabannya tetapi takut salah. Di tempat kerja, karyawan muda memiliki solusi tetapi memilih mengikuti arahan seniornya meski kurang masuk akal. Dalam percakapan sehari-hari, banyak orang ingin berkata jujur tetapi akhirnya memilih kalimat yang aman agar tidak ada yang tersinggung. Diam dianggap lebih baik dibanding risiko dipandang buruk.
Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Budaya hierarki yang kuat dalam masyarakat membuat pendapat senior sering dianggap lebih benar hanya karena faktor usia atau posisi. Ketika struktur sosial seperti ini terus bertahan, anak muda menjadi terbiasa menahan isi pikirannya. Mereka tidak dilatih untuk berdialog, melainkan dilatih untuk menerima. Padahal, keberanian menyampaikan pendapat bukan tentang melawan atau tidak sopan, tetapi tentang keterbukaan dalam bertukar pikiran.
Yang menarik, banyak yang merasa aman diam tetapi pada saat yang sama merasa frustrasi. Mereka ingin didengar, ingin dihargai, namun tidak tahu bagaimana memulai. Ketakutan terbesar bukan sekadar salah, tetapi takut dinilai. Kalimat seperti "kok kamu berani ngomong begitu" sering menjadi penghalang mental seseorang untuk berbicara lagi. Lama kelamaan, keberanian itu memudar dan tergantikan pikiran bahwa pendapat mereka tidak penting.
Padahal, komunikasi yang sehat memerlukan keberanian untuk berbeda. Mengemukakan pendapat bukan berarti tidak sopan. Keberanian berbicara juga tidak harus dilakukan dengan nada tinggi atau ekspresi marah. Ada cara menyampaikan pendapat tanpa merendahkan orang lain. Ada ruang untuk tidak setuju tanpa membuat suasana menjadi tegang. Sayangnya, kemampuan itu hanya bisa terbentuk jika seseorang diberi kesempatan untuk melatihnya.
Jika kita terus mempertahankan budaya "tidak enakan", maka kita sedang menciptakan generasi yang pasif secara komunikasi. Padahal masa depan membutuhkan orang yang mampu berdiskusi, bukan hanya mengikuti. Dunia kerja membutuhkan pemikir kritis, bukan sekadar pelaksana instruksi. Masyarakat membutuhkan dialog terbuka, bukan bisikan di belakang meja.
Mungkin sekarang saatnya kita meninjau kembali pandangan lama tentang sopan santun. Sopan tidak harus berarti diam. Menghormati tidak harus berarti setuju. Keberanian berpendapat bukan ancaman, tetapi bagian dari proses menjadi manusia yang dewasa dalam berpikir dan berkomunikasi.
Jadi, pertanyaannya bukan lagi apakah kita berani berbicara. Pertanyaan yang lebih penting adalah sampai kapan kita memilih diam hanya karena takut dianggap salah, tidak sopan, atau berbeda?
Penulis : Hafizh Muhammad Ridho