Larangan Hukuman Fisik Dorong Iklim Belajar yang Lebih Positif
pgsd.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Larangan hukuman fisik
dinilai mendorong terciptanya iklim belajar yang lebih positif dan aman bagi
peserta didik. Pendekatan ini menekankan perlindungan terhadap hak anak dalam
proses pembelajaran sehari-hari. Lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan
dipercaya dapat meningkatkan rasa nyaman dan kepercayaan diri siswa. Perubahan
ini juga bertujuan mengurangi trauma yang dapat memengaruhi perkembangan
emosional anak. Banyak pihak menilai bahwa metode disiplin tanpa kekerasan
lebih efektif dalam jangka panjang. Interaksi yang sehat antara pendidik dan
siswa menjadi kunci utama keberhasilan belajar. Upaya ini sejalan dengan
kebutuhan pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan karakter. Dengan
demikian, proses belajar diharapkan berlangsung lebih manusiawi dan bermakna.
Penerapan larangan hukuman fisik
mendorong munculnya metode disiplin yang lebih edukatif. Pendekatan dialog dan
pembinaan perilaku mulai diprioritaskan dalam menyelesaikan pelanggaran. Siswa
diajak memahami konsekuensi dari setiap tindakan tanpa rasa takut berlebihan.
Cara ini dinilai mampu membangun kesadaran dan tanggung jawab pribadi. Selain
itu, suasana kelas menjadi lebih kondusif untuk bertanya dan berpendapat.
Hubungan antara pendidik dan siswa pun cenderung lebih terbuka dan saling
menghargai. Proses pembelajaran tidak lagi didominasi rasa tertekan. Dampaknya
terlihat pada meningkatnya partisipasi dan motivasi belajar.
Larangan tersebut juga berpengaruh
pada kesehatan mental peserta didik. Lingkungan belajar yang aman membantu
mengurangi kecemasan dan stres. Siswa merasa dihargai sebagai individu yang
sedang tumbuh dan belajar. Rasa aman ini mendukung perkembangan sosial dan
emosional yang seimbang. Ketika siswa tidak takut melakukan kesalahan, mereka
lebih berani mencoba hal baru. Kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses
belajar, bukan alasan untuk menerima hukuman. Pola pikir ini mendorong
kreativitas dan keberanian berpikir kritis. Hasilnya, proses belajar menjadi
lebih aktif dan menyenangkan.
Di sisi lain, perubahan ini
menuntut peningkatan keterampilan pendidik dalam mengelola kelas. Strategi
pengelolaan perilaku yang positif menjadi kebutuhan utama. Pendidik perlu
mengembangkan kesabaran dan kemampuan komunikasi yang efektif. Pendekatan berbasis
empati membantu memahami latar belakang perilaku siswa. Dengan pemahaman
tersebut, solusi yang diberikan menjadi lebih tepat sasaran. Proses pembinaan
dilakukan secara bertahap dan konsisten. Hal ini menumbuhkan rasa saling
percaya di ruang belajar. Kepercayaan tersebut menjadi fondasi terciptanya
iklim belajar yang sehat.
Secara keseluruhan, larangan
hukuman fisik membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan. Iklim
belajar yang positif mendukung pencapaian akademik dan nonakademik. Siswa
tumbuh dalam lingkungan yang menghargai martabat dan hak mereka. Pendekatan ini
juga memperkuat nilai-nilai disiplin yang bersifat membangun. Pembelajaran
tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada proses. Semua pihak
diharapkan berperan aktif menjaga suasana belajar yang aman. Komitmen bersama
menjadi kunci keberlanjutan perubahan ini. Dengan demikian, pendidikan dapat
berjalan lebih inklusif dan berorientasi pada masa depan.
Penulis: Hanaksa Erviga Putri
Suprapto