Lelah Jadi Orang “Ga Enakan”
Menjadi orang baik selalu terdengar sebagai sesuatu yang benar. Sejak kecil, banyak dari kita diajarkan untuk tidak membuat masalah, tidak menolak permintaan siapa pun, dan selalu berusaha membuat orang lain nyaman. Lama-kelamaan, nilai itu berubah bentuk menjadi tekanan. Ada orang yang sulit mengatakan tidak, meskipun dirinya tidak sanggup, tidak ingin, atau bahkan dirugikan. Istilah yang sering muncul untuk situasi ini adalah people pleaser, seseorang yang terlalu memprioritaskan kenyamanan orang lain dibanding dirinya sendiri.
Fenomena ini sebenarnya lebih lazim daripada yang terlihat. Banyak orang tersenyum saat hatinya tidak setuju, menerima tugas tambahan meski sudah kewalahan, atau mengorbankan istirahat semata untuk dianggap sopan. Kebaikan seperti itu tidak selalu buruk. Namun ketika dilakukan terus-menerus sampai mengorbankan diri sendiri, kebaikan itu berubah menjadi beban yang perlahan menguras tenaga, emosi, dan harga diri.
Dalam budaya kita, ada konsep "tidak enakan" yang begitu kuat. Banyak orang merasa bersalah hanya karena mereka memiliki batasan. Ada ketakutan akan label tidak sopan, egois, atau tidak menghargai orang lain. Padahal kemampuan menolak sesuatu bukanlah bentuk ketidaksopanan. Itu merupakan bagian dari kemampuan menjaga diri.
Kelelahan emosional sering menjadi tanda awal bahwa seseorang terlalu banyak mengakomodasi orang lain. Ada rasa marah yang dipendam, tetapi tidak diucapkan. Ada rasa kecewa karena merasa dimanfaatkan, namun tetap diam karena takut hubungan hancur. Semakin sering ini terjadi, semakin jauh seseorang dari dirinya sendiri. Pada akhirnya, ia tidak lagi tahu apa yang sebenarnya ia inginkan karena terlalu sibuk memenuhi keinginan orang lain.
Batasan diri atau boundary adalah hal penting yang sering dilupakan. Batas bukan tembok untuk menjauhkan orang lain, tetapi pagar agar diri tetap utuh. Batasan membantu kita mengenali mana permintaan yang perlu diterima dan mana yang harus ditolak. Seseorang tetap bisa bersikap baik tanpa mengorbankan diri. Kebaikan yang dewasa adalah kebaikan yang memiliki keseimbangan antara memberi kepada orang lain dan memberi ruang untuk diri sendiri.
Mengubah pola ini memang tidak mudah, terutama bila seseorang sudah bertahun-tahun terbiasa menyenangkan orang lain. Prosesnya dimulai dari keberanian kecil untuk jujur pada diri sendiri. Ketika lelah, katakan sedang butuh waktu beristirahat. Saat tidak setuju, sampaikan pendapat dengan bahasa yang baik. Ketika seseorang meminta bantuan dan tidak memungkinkan untuk mengerjakannya, penolakan bukan berarti keburukan. Itu artinya kita menghargai kapasitas diri.
Menjadi orang baik tidak harus berarti mengabaikan diri sendiri. Kita tetap bisa ramah, peduli, dan menghormati orang lain tanpa kehilangan identitas dan kebutuhan pribadi. Dunia tidak membutuhkan orang yang selalu mengiyakan segala hal. Dunia membutuhkan orang yang tulus, jujur, dan mampu menunjukkan empati tanpa kehilangan diri.
Pada akhirnya, kebaikan yang paling sehat berawal dari kemampuan menghargai diri sendiri. Ketika diri terjaga, emosi stabil, dan batasan sehat diterapkan, relasi dengan orang lain akan menjadi lebih jujur dan berkualitas. Tidak ada lagi kebaikan yang dipaksakan. Tidak ada lagi senyum yang terpaksa. Hanya ada ketulusan yang datang dari tempat yang lebih matang dan lebih benar.
Penulis : Hafizh Muhammad Ridho