Mad Unicorn Mengungkap Betapa Mahal Harga Kesuksesan
pgsd.fip.unesa.ac.id
Surabaya — Mad
Unicorn tidak menampilkan kilau startup seperti yang sering kita bayangkan.
Netflix justru membawa penonton pada sisi paling gelap dari mimpi membangun
“unicorn” ambisi yang menuntut pengorbanan, dan pengkhianatan yang lahir dari
orang-orang yang dulu dianggap kawan.
Santi, pemuda desa tambang yang hanya bersenjata kemampuan
Bahasa Mandarin, memulai Thunder Express dengan harapan sederhana: keluar dari
kemiskinan. Namun mimpi itu tumbuh liar. Ketika bisnisnya melejit, Santi
menemukan dirinya terseret ke arus persaingan tak sehat, manipulasi, dan
permainan kekuasaan yang tak memandang integritas. Rekan yang dulu ia percayai
berubah menjadi lawan, sementara ambisi yang dulu menjadi api justru perlahan
membakarnya dari dalam.
Serial Thailand berdurasi tujuh episode ini menekan
penontonnya dengan ritme yang cepat dan konflik yang tak henti, tapi di balik
itu semua, ada pertanyaan besar yang mengintai: berapa harga sebuah kesuksesan?
Melalui sorotan kamera yang padat emosi, kita melihat
bagaimana mimpi bisa mengubah seseorang untuk bangkit dan untuk kehilangan
dirinya sendiri.
Ice Natara memerankan Santi dengan intensitas yang pas:
tajam ketika mengejar peluang, rapuh ketika ditinggalkan, dan bimbang ketika
harus memilih antara hati dan ambisi. Mad Unicorn akhirnya menjadi cermin:
bahwa membangun kerajaan bisnis bukan hanya soal visi, tetapi juga tentang
bertahan di dunia yang tak segan mencabik siapa pun yang lemah.
Di akhir cerita, jelas bahwa status “unicorn” bukan hanya
label prestasi, tetapi juga jejak luka—dan Mad Unicorn mengajak kita melihat
keduanya tanpa ilusi.
Penulis: Zahira Auliya Soekandaar (PGSD)
Dokumentasi: Dmtalkies