Media Sosial sebagai Sarana Edukasi: Bijak atau Berisiko bagi Anak?
pgsd.fip.unesa.ac.id- Media sosial kini tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan, tetapi juga mulai dimanfaatkan sebagai media edukasi, termasuk bagi anak usia sekolah dasar. Berbagai konten pembelajaran seperti video penjelasan materi, eksperimen sederhana, hingga cerita edukatif mudah ditemukan di platform populer. Kondisi ini membuka peluang baru dalam proses belajar yang lebih menarik dan kontekstual.
Banyak guru dan orang tua memanfaatkan media sosial sebagai sumber tambahan belajar. Konten visual dan audio yang disajikan secara singkat dinilai mampu meningkatkan minat belajar anak. Anak pun lebih antusias karena materi disampaikan dengan gaya yang dekat dengan keseharian mereka.
Namun di balik peluang tersebut, penggunaan media sosial juga menyimpan berbagai risiko. Anak dapat terpapar konten yang tidak sesuai usia, informasi keliru, hingga kecanduan layar. Tanpa pendampingan yang tepat, media sosial justru dapat mengganggu konsentrasi belajar dan perkembangan sosial anak.
Oleh karena itu, peran guru dan orang tua sangat penting dalam mengarahkan penggunaan media sosial secara bijak. Anak perlu diajarkan batasan waktu penggunaan, etika berinternet, serta kemampuan memilah konten yang bermanfaat. Pendampingan aktif menjadi kunci agar media sosial benar-benar berfungsi sebagai sarana edukasi.
Dengan pengawasan dan pemanfaatan yang tepat, media sosial dapat menjadi alat pendukung pembelajaran yang efektif. Tantangan ke depan adalah bagaimana memaksimalkan potensi edukatif media sosial sekaligus meminimalkan dampak negatifnya bagi perkembangan anak sekolah dasar.
Penulis: Adeluh Febiola
Gambar: Google