Membangun Kebun Empati dan Lingkungan Aman Tugas Mulia Calon Guru PGSD
Ruang kelas dan koridor sekolah dasar seharusnya menjadi taman yang aman bagi setiap tunas bangsa untuk tumbuh dan merekah, bebas dari bayang-bayang ketakutan dan penindasan, dan di sinilah kita, sebagai calon guru dari jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengemban amanah suci untuk tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga menumbuhkan kebun empati yang kokoh melalui pendidikan anti-bullying serta promosi keberagaman yang tulus. Kita harus memahami bahwa bullying, dalam bentuk apapun verbal, fisik, sosial, atau cyber dapat meninggalkan luka mendalam yang menghambat perkembangan anak, merusak kepercayaan diri, dan merenggut kebahagiaan mereka, sehingga tugas kita adalah menjadi penjaga yang sigap dan pembangun jembatan persahabatan. Oleh karena itu, kita harus secara proaktif mengintegrasikan nilai-nilai anti-bullying ke dalam setiap aspek kehidupan sekolah, misalnya dengan mengadakan "Lingkaran Cerita Empati" di mana siswa diajak berbagi pengalaman atau sudut pandang karakter yang berbeda, sehingga mereka belajar merasakan apa yang dirasakan orang lain, atau melalui program "Sahabat Anti-Bullying" di mana siswa yang lebih besar menjadi mentor bagi yang lebih kecil. Lebih jauh lagi, kita perlu secara sengaja merayakan dan menghargai keberagaman yang ada di kelas baik itu perbedaan suku, agama, warna kulit, latar belakang keluarga, bahkan perbedaan kemampuan dengan mengajarkan bahwa setiap individu memiliki keunikan dan nilai yang tak tergantikan, melalui proyek "Pesta Budaya Dunia" atau diskusi tentang "Kekuatan Perbedaan". Pada akhirnya, dengan menjadi teladan dalam menunjukkan rasa hormat, mendengarkan tanpa menghakimi, dan bertindak cepat saat bullying terdeteksi, kita tidak hanya menciptakan lingkungan fisik yang aman, tetapi juga menumbuhkan iklim sosial-emosional yang inklusif dan penuh kasih, di mana setiap anak merasa diterima, dihargai, dan berani menjadi dirinya sendiri.
Penulis: Adella