Membangun Rasa Syukur dan Empati: Pendidikan Karakter Lewat Cerita & Diskusi
Pendidikan karakter kembali menjadi sorotan di berbagai sekolah dasar, terutama dalam upaya menumbuhkan rasa syukur dan empati pada siswa sejak dini. Banyak guru kini memanfaatkan metode sederhana seperti membaca cerita, berbagi pengalaman, dan berdiskusi di kelas untuk membantu siswa mengenali perasaan diri sendiri maupun orang lain. Cara ini terbukti lebih efektif dibandingkan sekadar memberikan nasihat langsung.
Dalam praktiknya, guru menghadirkan cerita yang mengandung nilai moral—mulai dari kisah persahabatan, perjuangan tokoh, hingga cerita rakyat lokal. Melalui alur cerita, siswa diajak menempatkan diri sebagai tokoh utama sehingga mereka dapat merasakan situasi, tantangan, maupun emosi yang dialami karakter tersebut. Pendekatan ini membantu siswa memahami makna syukur, berbagi, dan peduli secara lebih mendalam.
Kegiatan diskusi setelah membaca cerita menjadi momen penting bagi siswa untuk mengungkapkan pandangan pribadi. Guru biasanya mengajukan pertanyaan reflektif seperti “Bagaimana perasaanmu jika berada di posisi tokoh tersebut?” atau “Apa yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan rasa syukur hari ini?”. Proses tanya jawab ini melatih kemampuan berpikir, berempati, serta keberanian menyampaikan pendapat.
Tidak hanya dilakukan di kelas, beberapa sekolah juga menerapkan kegiatan praktik empati seperti berbagi makanan, membantu teman yang kesulitan, atau membuat jurnal rasa syukur setiap minggu. Aktivitas kecil namun konsisten ini membantu siswa memahami bahwa empati bukan hanya konsep, tetapi tindakan nyata yang dapat dilakukan setiap hari.
Melalui kombinasi cerita, diskusi, dan praktik reflektif, pendidikan karakter berbasis empati dan syukur diyakini mampu membentuk siswa yang lebih peka, berperilaku baik, dan memiliki hubungan sosial yang positif. Guru berharap pendekatan ini dapat menjadi fondasi bagi tumbuhnya generasi yang lebih berbudaya, santun, dan penuh kepedulian.
Penulis: Adeluh Febiola