Mengapa Anak Muda Tidak Lagi Menggunakan Bahasa Daerahnya?
Coba dengarkan percakapan anak muda
di tempat nongkrong, kampus, atau media sosial. Hampir semuanya memakai Bahasa
Indonesia, kadang bercampur dengan bahasa Inggris atau slang internet seperti
“bestie”, “Guys”, atau “cringe”. Sementara bahasa daerah yang dulu begitu dekat
dengan kehidupan keluarga, kini terdengar semakin jarang. Bahkan, di beberapa
rumah, orang tua dan anak berbicara sepenuhnya dalam Bahasa Indonesia.
Fenomena ini membuat banyak orang
bertanya, mengapa anak muda sekarang tidak lagi menggunakan bahasa daerah
mereka? Apa karena mereka malu, tidak terbiasa, atau memang bahasa daerah sudah
tidak dianggap penting? Sebenarnya perubahan ini tidak muncul begitu saja. Ada
banyak faktor yang ikut membentuknya. Sejak kecil, sebagian besar anak
diajarkan bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa untuk belajar, bahasa yang
sopan, dan bahasa yang harus digunakan di sekolah. Sementara bahasa daerah
sering kali dianggap bahasa santai dan tidak formal. Akibatnya, sejak awal, ada
hierarki yang tidak disadari: satu bahasa dianggap penting, dan bahasa lainnya
perlahan tergeser.
Media dan teknologi juga berperan
besar. Anak-anak tumbuh bersama YouTube, TikTok, film luar negeri, dan
influencer nasional. Konten berbahasa daerah memang ada, tetapi tidak sebanyak
konten berbahasa Indonesia atau Inggris. Bahasa mengikuti kebiasaan. Jika
jarang mendengar, maka makin sulit mengucapkan. Lama-lama, terasa asing.
Di sisi lain, banyak orang tua
merasa bahwa menggunakan bahasa Indonesia sejak dini akan membantu anak lebih
mudah memahami pelajaran atau bersosialisasi. Di kota besar, keputusan ini
semakin kuat karena lingkungan pertemanan tidak hanya terdiri dari satu suku.
Bahasa Indonesia membuat komunikasi lebih netral dan aman. Tidak ada risiko
dianggap tidak sopan, salah tata bahasa, atau salah tingkat tutur seperti yang
terjadi dalam bahasa daerah tertentu.
Pertanyaannya, apakah ini salah anak
muda? Mungkin tidak. Anak muda hanya mengikuti lingkungan tempat mereka tumbuh.
Kita tidak bisa menuntut mereka menggunakan bahasa daerah jika keluarga tidak
lagi menurunkannya, sekolah tidak memberi ruang, dan media tidak menyediakan
contoh. Bahasa butuh ruang untuk hidup, bukan sekadar slogan pelestarian.
Apakah ini berarti bahasa daerah
pasti akan hilang? Belum tentu. Banyak anak muda mulai menggunakan kembali
bahasa daerah dalam konten digital, musik, stand-up comedy, atau percakapan
santai. Tetapi bentuknya tidak lagi kaku seperti buku pelajaran, melainkan
lebih cair, kreatif, dan sesuai zaman.
Mungkin yang perlu kita pahami
adalah bahwa anak muda tidak menolak bahasa daerah. Mereka hanya belum
menemukan alasan untuk merasa terhubung dengannya. Jika bahasa daerah kembali
hadir dalam konteks yang relevan, akrab, dan menyenangkan, mungkin ceritanya
akan berbeda.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih
penting bukan lagi “mengapa anak muda tidak memakai bahasa daerah?”, melainkan
“apakah kita masih ingin bahasa daerah tetap hidup, dan jika iya, bagaimana
kita menghidupkannya kembali bersama-sama?” Karena bahasa daerah tidak akan
punah dalam kamus. Ia hanya akan punah ketika tidak lagi ada yang
mengucapkannya.
Penulis : Hafizh Muhammad Ridho