Salah satu cara efektif untuk melatih kecerdasan emosional adalah melalui storytelling. Orang tua dapat membacakan cerita yang bermuatan nilai empati, persahabatan, dan penyelesaian konflik. Setelah membaca, anak dapat diajak berdiskusi tentang perasaan tokoh, situasi yang terjadi, serta kemungkinan solusi yang lebih baik. Kegiatan ini membantu anak belajar mengenali emosi—baik emosi diri sendiri maupun orang lain—sehingga mereka lebih terampil memahami perasaan sekitar.
Selain itu, permainan peran (role play) dapat menjadi aktivitas yang menarik dan edukatif. Anak dapat berpura-pura menjadi guru, dokter, teman yang sedang sedih, atau bahkan karakter dari cerita favorit mereka. Melalui permainan peran, anak belajar mengekspresikan perasaan, berlatih komunikasi, serta merespons situasi tertentu dengan cara yang lebih bijak. Aktivitas ini sangat membantu dalam membangun kepercayaan diri dan kemampuan sosial mereka.
Kegiatan seni juga dapat menjadi media untuk mengekspresikan emosi. Menggambar, mewarnai, menulis jurnal sederhana, atau membuat kerajinan tangan dapat membantu anak mencurahkan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Orang tua dapat memberikan tema tertentu, seperti "hari menyenangkan", "ketika aku sedih", atau "temanku yang baik". Dari karya tersebut, orang tua dapat memahami kondisi emosional anak dan memberikan dukungan yang diperlukan.
Dengan berbagai aktivitas yang seru dan mudah dilakukan di rumah, kecerdasan emosional anak dapat berkembang secara alami. Ketika anak terbiasa mengenali dan mengelola emosinya, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih stabil, peduli, dan mampu bekerja sama dengan baik. Kesadaran emosional sejak dini tidak hanya bermanfaat untuk kehidupan sosial anak, tetapi juga untuk keberhasilan akademik dan kesejahteraan mereka di masa depan.
Penulis: Adeluh Febiola
Gambar: Google