Mengatasi Perasaan Rendah Diri Melalui Pendekatan Psikologi Humanistik
pgsd.fip.unesa.ac.id Perasaan rendah diri pada peserta didik sering kali menjadi hambatan utama dalam mencapai aktualisasi diri yang maksimal di lingkungan pendidikan. Pendekatan psikologi humanistik hadir sebagai solusi efektif untuk memulihkan kepercayaan diri dengan memandang setiap individu sebagai pribadi yang unik. Fokus utama dari metode ini adalah menghargai potensi internal yang dimiliki oleh setiap siswa tanpa terkecuali dalam proses belajar. Dengan menempatkan manusia sebagai pusat perhatian, rasa minder dapat dikurangi melalui penerimaan tanpa syarat dari lingkungan sekitar. Pendidik berperan menciptakan suasana yang hangat agar siswa merasa aman untuk mengekspresikan diri mereka secara jujur. Ketika harga diri seorang anak terjaga, motivasi untuk berkembang akan muncul secara alami dari dalam hati mereka sendiri. Pendekatan ini terbukti mampu mengubah persepsi negatif siswa terhadap kemampuan pribadinya menjadi sebuah kekuatan yang positif. Pendidikan yang memanusiakan manusia adalah kunci utama dalam menghapus sekat-sekat inferioritas yang sering menghantui perkembangan mental remaja.
Dalam prakteknya, pendekatan humanistik mengedepankan empati sebagai jembatan untuk memahami dunia batin peserta didik yang sedang mengalami krisis kepercayaan. Pendidik harus mampu mendengarkan tanpa menghakimi agar siswa merasa bahwa keberadaan mereka sangat diakui dan dianggap penting. Setiap pencapaian kecil yang diraih oleh siswa perlu diberikan apresiasi yang tulus agar mereka merasa dihargai. Fokus pembelajaran beralih dari sekadar mengejar nilai akademik menjadi upaya pengembangan kepribadian yang utuh dan sangat seimbang. Rasa rendah diri biasanya muncul karena adanya perbandingan yang tidak sehat antar sesama siswa di dalam kelas. Dengan menekankan bahwa setiap orang memiliki jalur sukses yang berbeda, tekanan kompetisi yang merusak dapat segera diminimalisir. Siswa diajak untuk mengenali kelebihan diri sendiri daripada terus-menerus meratapi kekurangan yang mungkin mereka miliki selama ini. Lingkungan yang mendukung pertumbuhan emosional ini sangat membantu siswa untuk keluar dari zona nyaman mereka dengan penuh rasa percaya diri.
Keberhasilan mengatasi perasaan rendah diri juga sangat bergantung pada keterbukaan komunikasi antara pengajar dengan para peserta didik. Dialog yang dilakukan harus bersifat personal dan menyentuh sisi kemanusiaan agar tercipta ikatan emosional yang kuat dan sangat positif. Melalui pendekatan ini, siswa diajarkan untuk memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar yang sangat wajar. Pengajar tidak memberikan label negatif kepada siswa yang lambat dalam memahami materi pelajaran tertentu di ruang kelas. Sebaliknya, dukungan moral diberikan secara konsisten agar siswa merasa memiliki kapasitas untuk memperbaiki diri di masa depan. Psikologi humanistik mendorong individu untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri tanpa perlu meniru orang lain. Hal ini sangat penting untuk membangun fondasi mental yang kokoh bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman. Kepercayaan diri yang stabil akan menjadi modal utama bagi siswa untuk berinteraksi secara sehat dalam kehidupan sosial.
Implementasi nilai-nilai humanistik ini juga menuntut perubahan paradigma dalam cara mengevaluasi perkembangan belajar anak secara keseluruhan dan mendalam. Penilaian tidak lagi hanya terpaku pada angka, melainkan juga melihat perubahan perilaku dan kematangan emosional yang ditunjukkan. Ketika siswa merasa bahwa proses mereka lebih dihargai daripada hasil akhir, rasa takut akan kesalahan akan berkurang. Ketakutan yang hilang tersebut akan digantikan oleh rasa ingin tahu yang besar untuk terus bereksplorasi tanpa beban. Rasa rendah diri secara perlahan akan terkikis seiring dengan meningkatnya rasa kompetensi diri yang dirasakan oleh siswa tersebut. Pendidik perlu menjadi teladan dalam menunjukkan sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan pendapat di setiap kesempatan belajar. Kehangatan interaksi di dalam kelas menjadi obat mujarab bagi jiwa-jiwa muda yang sedang mencari identitas dan pengakuan. Transformasi ini membawa dampak positif jangka panjang bagi kesehatan mental siswa hingga mereka dewasa dan terjun ke masyarakat.
Sebagai simpulan, mengatasi rendah diri memerlukan kerja sama yang harmonis dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang penuh dengan cinta kasih. Pendekatan psikologi humanistik membuktikan bahwa penghargaan terhadap martabat manusia adalah motor penggerak keberhasilan belajar yang paling hakiki. Siswa yang memiliki harga diri tinggi akan lebih berani mengambil tantangan dan tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan. Masa depan pendidikan harus terus mengintegrasikan aspek psikologis ini agar tidak hanya mencetak insan cerdas tetapi juga tangguh. Keberhasilan seorang pendidik diukur dari seberapa mampu ia membangkitkan binar keceriaan pada wajah siswa yang sebelumnya murung. Mari kita jadikan setiap ruang belajar sebagai tempat di mana setiap anak merasa berharga dan memiliki harapan. Rasa percaya diri adalah cahaya yang akan menuntun mereka menuju pintu kesuksesan yang lebih luas dan sangat bermakna. Langkah kecil dalam menghargai perasaan siswa hari ini adalah investasi besar bagi kemajuan bangsa di masa depan.
Penulis: Mutia Syafa Yunita
Foto: Google