MENGEMBANGKAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS AUGMENTED REALITY UNTUK SISWA SEKOLAH DASAR
Di era digital saat ini, pembelajaran di
sekolah dasar membutuhkan inovasi agar siswa tetap antusias dan mudah memahami
materi. Data Kemendikbud 2023 menunjukkan bahwa 70% guru SD masih mengandalkan
metode ceramah dan buku teks sebagai sumber belajar utama. Kondisi ini membuat
banyak siswa cepat bosan dan kurang terlibat secara aktif dalam proses
pembelajaran. Augmented Reality (AR) hadir sebagai salah satu teknologi
yang dapat membuat pembelajaran jauh lebih menarik melalui visual 3D yang
interaktif. Teknologi ini memungkinkan siswa melihat objek abstrak menjadi
lebih nyata dan mudah dipahami. Oleh karena itu, penggunaan AR menjadi peluang
besar bagi mahasiswa PGSD untuk menciptakan media pembelajaran masa depan.
Augmented Reality
membantu siswa memvisualisasikan konsep yang selama ini sulit dijelaskan hanya
dengan gambar buku. Misalnya, siswa dapat melihat model tata surya 3D, organ
tubuh manusia, atau bangunan bersejarah secara interaktif. Fitur ini membuat
pembelajaran lebih imersif dan menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi pada
anak. Dengan bantuan aplikasi sederhana seperti AssemblrEdu atau Merge Cube,
guru dan mahasiswa dapat membuat media AR tanpa memerlukan kemampuan coding
yang rumit. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi AR tidak hanya untuk ahli,
tetapi juga dapat diakses oleh calon guru yang sedang berlatih. Penggunaan AR
juga terbukti meningkatkan daya ingat siswa karena mereka belajar melalui
pengalaman visual langsung.
Mahasiswa PGSD memiliki peran penting
dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis AR. Mereka dapat merancang
materi ajar sesuai kebutuhan siswa SD, seperti tema lingkungan, sains
sederhana, hingga cerita rakyat Nusantara. Kreativitas mahasiswa menjadi kunci
agar materi yang disampaikan tidak hanya menarik, tetapi juga sesuai dengan
kurikulum. Selain itu, mahasiswa dapat melakukan uji coba pada saat
microteaching untuk memastikan media AR berjalan efektif di kelas. Pengalaman
ini sekaligus melatih kemampuan berpikir inovatif, pedagogis, dan teknologi
secara bersamaan. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna
teknologi, tetapi juga pencipta produk edukatif digital.
Implementasi AR di sekolah dasar juga
menjadi solusi atas tantangan literasi dan minat belajar siswa yang menurun.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa media visual interaktif mampu meningkatkan
konsentrasi dan motivasi belajar dibandingkan metode konvensional. Penggunaan
AR memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sehingga siswa lebih cepat
memahami materi. Selain itu, AR mendorong pembelajaran berbasis eksplorasi,
kreativitas, dan kolaborasi antarsiswa. Media ini juga menjadi jembatan bagi
guru yang ingin memperkenalkan teknologi edukatif secara aman dan terarah.
Dengan penggunaan yang tepat, AR dapat memperkaya proses pembelajaran di
berbagai mata pelajaran.
Dengan demikian, pengembangan media
pembelajaran berbasis Augmented Reality memberikan peluang besar untuk
menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik bagi siswa SD. Teknologi ini
tidak hanya memudahkan siswa memahami materi, tetapi juga mendorong kreativitas
guru dan mahasiswa PGSD dalam mendesain pembelajaran. Mahasiswa sebagai calon
pendidik perlu terus berlatih membuat media digital agar siap menghadapi
tuntutan pendidikan modern. Rekomendasi ke depan adalah perguruan tinggi
menyediakan pelatihan AR, kolaborasi dengan sekolah, serta forum pameran karya
inovatif bagi mahasiswa. Dengan dukungan yang tepat, AR dapat menjadi media
pembelajaran yang mampu menjawab kebutuhan generasi digital. Pendidikan dasar
pun akan menjadi lebih menyenangkan, interaktif, dan relevan dengan
perkembangan zaman.
Penulis: Etika Meilani