Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa melalui Implementasi Pendekatan Cognitive Behavior Therapy (CBT)
Motivasi
belajar merupakan salah satu faktor terpenting yang menentukan keberhasilan
siswa dalam menempuh pendidikan. Tidak peduli seberapa baik kurikulum disusun
atau bagaimana metode pembelajaran disampaikan, tanpa motivasi yang memadai
siswa tidak akan mampu mencapai hasil yang optimal. Motivasi adalah energi
psikologis yang mendorong siswa untuk bertindak, berupaya, dan bertahan dalam
proses belajar. Namun dalam kenyataannya, tingkat motivasi belajar setiap siswa
berbeda-beda. Ada yang sangat antusias mengikuti pembelajaran, ada yang cukup
konsisten namun kurang mendalam, dan ada pula yang acuh tak acuh terhadap
kegiatan sekolah. Perbedaan inilah yang menjadi tantangan bagi guru dalam
menciptakan pembelajaran yang efektif.
Dalam
jurnal yang diteliti di SMA Muhammadiyah 1 Medan, ditemukan bahwa mayoritas
siswa kelas XII IPS memiliki motivasi belajar pada kategori sedang, dengan
persentase mencapai 85%, sementara 10% berada pada kategori tinggi, dan 5%
berada pada kategori rendah. Temuan ini menggambarkan bahwa sebagian besar
siswa memiliki kemauan belajar, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong
prestasi maksimal. Kondisi ini biasanya dipengaruhi oleh tekanan akademik,
kurangnya kepercayaan diri, hambatan psikologis, hingga kurang menariknya
metode pembelajaran. Siswa dengan motivasi rendah sering kali kesulitan
berkonsentrasi, merasa tidak berdaya dalam memahami materi, atau enggan
bertanya saat kesulitan. Sebaliknya, siswa dengan motivasi sedang umumnya
memiliki keinginan belajar tetapi mudah terpengaruh oleh faktor eksternal
seperti lingkungan sekolah, keluarga, hingga kelompok pertemanan.
Melihat
fenomena tersebut, pendekatan Cognitive Behavior Therapy (CBT) menjadi
salah satu strategi yang relevan untuk diterapkan di lingkungan sekolah. CBT
merupakan pendekatan konseling yang bersifat terstruktur, berjangka pendek, dan
berfokus pada upaya mengidentifikasi serta mengubah pikiran negatif yang
memengaruhi perilaku siswa. Pendekatan ini bekerja dengan prinsip bahwa pikiran
seseorang sangat menentukan respons emosional dan perilaku mereka. Jika siswa
memiliki keyakinan negatif seperti “saya tidak bisa belajar”, “materi ini pasti
terlalu sulit”, atau “nilai saya jelek karena saya bodoh”, maka pikiran tersebut
akan melemahkan motivasi belajar mereka. CBT bertujuan mengubah pola pikir
seperti itu menjadi lebih rasional, positif, dan adaptif.
Dalam
penelitian tersebut, guru Bimbingan Konseling (BK) berperan sebagai konselor
yang membimbing siswa untuk mengenali hambatan psikologis mereka. Proses ini
tidak hanya menyentuh aspek motivasi belajar, tetapi juga menyinggung masalah self-esteem,
atau harga diri siswa. Self-esteem yang rendah sering menjadi akar munculnya
motivasi belajar rendah. Siswa yang tidak percaya diri cenderung menghindari
tantangan, ragu bertanya, takut salah, dan mudah menyerah. CBT membantu siswa
menyadari bahwa pola pikir negatif mereka tidak selalu benar. Melalui teknik
restrukturisasi kognitif, siswa dilatih untuk mengganti pemikiran keliru dengan
pandangan yang lebih realistis dan mendukung proses belajar.
Implementasi
CBT dalam konteks sekolah dilakukan melalui beberapa tahapan. Guru BK mengawali
proses dengan mengamati perilaku siswa melalui observasi dan kuesioner.
Instrumen berbasis skala Likert diberikan untuk mengukur kecenderungan motivasi,
kebiasaan belajar, perasaan siswa terhadap sekolah, serta persepsi mereka
terhadap pelajaran. Teknik pengumpulan data ini memberikan gambaran awal
mengenai kondisi psikologis siswa secara menyeluruh. Setelah mengidentifikasi
siswa dengan motivasi rendah dan sedang, guru dapat memberikan intervensi
secara bertahap. Intervensi ini biasanya mencakup sesi konseling individual
atau kelompok, di mana siswa diajak mengevaluasi pikiran otomatis yang muncul
saat menghadapi pembelajaran. Misalnya, ketika siswa merasa malas karena
menganggap materi terlalu sulit, guru membantu mereka membedah pikiran tersebut
dan mengarahkannya untuk melihat fakta objektif: bahwa kesulitan dapat diatasi
melalui latihan, bantuan teman, atau penjelasan ulang dari guru. Dalam kasus
lain, ketika siswa merasa malu bertanya di kelas, konselor membantu mereka
mengidentifikasi sumber rasa malu tersebut dan melatih keberanian secara
bertahap melalui simulasi atau role play. CBT membantu siswa memahami bahwa
rasa takut atau khawatir muncul karena pola pikir tertentu, bukan karena
ketidakmampuan mereka.
Selain
restrukturisasi kognitif, CBT juga memanfaatkan teknik modifikasi perilaku.
Siswa didorong membuat daftar perilaku belajar baru yang ingin mereka latih,
seperti membuat catatan ringkas, membaca ulang materi, bertanya ketika bingung,
atau menyelesaikan tugas lebih awal. Dengan memberikan tugas perilaku kecil
yang realistis dan dapat dicapai, CBT membantu siswa merasakan keberhasilan kecil
(small success) yang pada gilirannya meningkatkan rasa percaya diri
mereka. Semakin sering siswa merasakan keberhasilan, semakin positif keyakinan
mereka tentang kemampuan dirinya, dan semakin kuat motivasi belajarnya.
Dalam
konteks pembelajaran di SMA Muhammadiyah 1 Medan, penelitian tersebut
menekankan bahwa metode pembelajaran yang kurang variatif dan kurangnya media
pendukung menjadi salah satu penyebab rendahnya motivasi siswa. Oleh karena
itu, selain intervensi psikologis, guru juga perlu menerapkan strategi
pembelajaran inovatif yang dapat menstimulasi minat dan keterlibatan siswa. CBT
dalam hal ini bukan sekadar terapi individu, tetapi juga dapat mempengaruhi
cara guru menyusun pembelajaran. Guru yang memahami prinsip CBT akan cenderung
memberikan ruang untuk diskusi, memberikan apresiasi kecil terhadap usaha
siswa, serta lebih peka terhadap kebutuhan emosional mereka.
Pada
akhirnya, implementasi CBT dalam meningkatkan motivasi belajar siswa memberikan
sejumlah manfaat yang signifikan. Siswa lebih mampu mengenali pikiran negatif,
memahami sumber stres, membangun rasa percaya diri, serta membentuk kebiasaan
belajar yang lebih sehat. Di sisi lain, guru juga memperoleh pemahaman lebih
baik tentang kondisi psikologis siswa, sehingga pembelajaran dapat disesuaikan
dengan kebutuhan mereka. Melalui penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa CBT
bukan hanya pendekatan konseling, tetapi sebuah strategi pendidikan yang dapat
diterapkan secara integratif dalam proses pembelajaran. CBT membantu membangun
motivasi belajar dari dalam diri siswa melalui perubahan cara berpikir dan
berperilaku. Dengan memberikan dukungan konseling yang tepat, menciptakan
pembelajaran yang menarik, dan membangun hubungan yang positif antara guru
serta siswa, motivasi belajar dapat meningkat secara signifikan. Upaya ini
sangat penting agar siswa tidak hanya mampu memahami materi pelajaran, tetapi
juga mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal.
Jika
sekolah mampu mengintegrasikan CBT secara konsisten, maka pembelajaran tidak
hanya menjadi proses akademik, tetapi juga proses penguatan karakter dan
kesehatan mental siswa. Dengan demikian, peningkatan motivasi belajar melalui
CBT menjadi langkah strategis dalam menciptakan generasi muda yang lebih
percaya diri, resilien, dan siap menghadapi tantangan pendidikan di masa depan.
Penulis: Shabrina
Muhamida Fitri
Sumber: Kamilah, A.
A., & Lesmana, G. (2025)