MENJADI DEWASA BUKAN TENTANG SELALU KUAT, TAPI MENGENAL BATAS DIRI
Banyak orang mengira bahwa menjadi dewasa berarti harus selalu kuat dalam segala situasi. Dewasa sering disamakan dengan tidak boleh mengeluh, tidak boleh menangis, dan harus selalu terlihat baik-baik saja. Padahal, kedewasaan tidak sesederhana itu. Ada banyak emosi yang tetap ada meskipun usia bertambah. Menekan semua perasaan justru bisa membuat seseorang semakin lelah secara mental. Tidak sedikit orang dewasa yang memilih diam karena takut dianggap lemah. Padahal, mengakui lelah juga bagian dari kedewasaan. Dari sini terlihat bahwa menjadi dewasa bukan soal menutupi emosi, tetapi memahami diri sendiri.
Mengenal batas diri menjadi hal yang penting dalam proses pendewasaan. Tidak semua hal harus dipaksakan hanya demi terlihat kuat. Ada saatnya seseorang perlu berhenti dan mengakui bahwa dirinya butuh istirahat. Memaksakan diri terus-menerus justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental. Banyak orang dewasa yang lupa mendengarkan tubuh dan perasaannya sendiri. Mereka terus berjalan meski sebenarnya sudah kelelahan. Padahal, berhenti sejenak bukan berarti gagal. Justru dari situ seseorang bisa kembali melangkah dengan lebih sehat.
Menangis sering dianggap sebagai tanda kelemahan, terutama bagi orang yang sudah dewasa. Padahal, menangis adalah salah satu bentuk luapan emosi yang wajar. Menangis tidak menghapus kekuatan seseorang, justru menunjukkan bahwa ia masih punya rasa. Emosi yang dipendam terlalu lama bisa berubah menjadi beban yang berat. Dengan meluapkannya, seseorang memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk pulih. Menjadi dewasa berarti berani jujur pada perasaan. Tidak apa-apa merasa sedih, kecewa, atau lelah. Semua itu bagian dari proses menjadi manusia yang utuh.
Selain mengenal batas diri, orang dewasa juga perlu belajar meminta bantuan. Tidak semua masalah harus diselesaikan sendirian. Ada kalanya berbagi cerita justru meringankan beban pikiran. Dukungan dari orang lain bisa membantu melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda. Sayangnya, banyak orang dewasa merasa gengsi untuk meminta tolong. Mereka takut dianggap tidak mampu. Padahal, menerima bantuan tidak mengurangi nilai diri. Justru hal tersebut menunjukkan keberanian untuk menjaga diri sendiri. Di situlah kedewasaan terlihat dengan jelas.
Pada akhirnya, menjadi dewasa adalah tentang keseimbangan. Kuat tetap penting, tetapi mengenal batas diri jauh lebih penting. Keseimbangan ini membantu seseorang bertahan tanpa harus kehilangan dirinya sendiri. Dengan mengenal batas, seseorang tahu kapan harus maju dan kapan harus berhenti. Hidup tidak selalu menuntut kita untuk terus berlari. Ada saatnya berjalan pelan atau berhenti sejenak. Semua itu sah selama kita sadar akan kondisi diri. Menjadi dewasa bukan soal terlihat kuat di mata orang lain. Melainkan mampu menjaga diri agar tetap utuh dan sehat ke depannya.
Penulis: Shinta Aulya Fahkruz Komari