Mentor Sebaya: Menumbuhkan Sikap Peduli dan Tolong-Menolong di Kelas
pgsd.fip.unesa.ac.id – Program mentor sebaya kini menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan sikap peduli dan tolong-menolong antar siswa di kelas. Kegiatan ini melibatkan siswa senior sebagai mentor bagi teman-teman sekelasnya, memberikan bimbingan, dan membantu dalam menyelesaikan tugas maupun permasalahan sehari-hari. Setiap mentor ditugaskan untuk memperhatikan kesejahteraan teman sekelasnya, baik dari segi akademik maupun sosial. Dengan pendekatan ini, siswa lebih mudah mengenali kebutuhan teman-temannya dan belajar untuk saling menghargai. Aktivitas ini tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik tetapi juga membangun karakter positif. Siswa yang sebelumnya cenderung pasif menjadi lebih aktif dalam membantu teman. Selain itu, kegiatan ini mendorong komunikasi yang lebih hangat dan suasana kelas yang harmonis. Dampak positif lainnya terlihat dari meningkatnya rasa tanggung jawab dan kepedulian siswa terhadap sesama.
Program ini dijalankan melalui beberapa sesi pertemuan yang terstruktur, di mana mentor dan mentee saling berbagi pengalaman dan strategi dalam menghadapi tantangan belajar. Setiap pertemuan diawali dengan diskusi kelompok untuk membahas masalah yang dihadapi siswa, lalu dilanjutkan dengan kegiatan simulasi tolong-menolong. Melalui latihan ini, siswa belajar empati, kerja sama, dan pentingnya mendukung teman ketika menghadapi kesulitan. Mentor sebaya juga diberi tugas untuk memantau perkembangan teman mereka, memastikan bahwa setiap siswa merasa didukung dan diperhatikan. Interaksi ini membantu siswa memahami nilai sosial yang penting seperti kejujuran, kerjasama, dan kepedulian. Aktivitas ini tidak hanya bermanfaat bagi mentee tetapi juga bagi mentor yang belajar memimpin dan bertanggung jawab. Kegiatan ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan karakter dapat diimplementasikan dengan sederhana namun efektif. Dengan adanya program mentor sebaya, suasana kelas menjadi lebih inklusif dan penuh perhatian.
Keberhasilan program mentor sebaya ini terlihat dari meningkatnya partisipasi siswa dalam kegiatan kelas dan interaksi sosial yang lebih hangat. Banyak siswa melaporkan bahwa mereka merasa lebih percaya diri dan nyaman meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan. Guru juga menilai bahwa kegiatan ini memperkuat ikatan antar siswa dan mengurangi konflik di kelas. Program ini menunjukkan bahwa dengan bimbingan teman sebaya, siswa dapat belajar nilai-nilai positif secara alami. Selain itu, kegiatan ini menumbuhkan rasa saling menghargai dan meningkatkan solidaritas antar siswa. Efek jangka panjang dari program ini diharapkan dapat membentuk generasi yang lebih peduli, tanggap, dan bertanggung jawab. Keberlanjutan program ini menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang suportif dan menyenangkan. Dengan demikian, mentor sebaya bukan sekadar metode belajar, tetapi juga sarana penting untuk pembentukan karakter.
Penulis: Aghnia