Menumbuhkan Budaya Membaca di Era Dominasi Konten Video Pendek
pgsd.fip.unesa.ac.id Tantangan terbesar dalam membangun kebiasaan membaca pada masa kini adalah persaingan ketat dengan arus konten video pendek yang sangat adiktif. Paparan visual yang cepat dan instan cenderung membuat rentang perhatian anak menjadi lebih pendek dan sulit untuk fokus pada teks. Namun, menumbuhkan minat baca tetap menjadi hal yang krusial karena membaca melatih kedalaman berpikir yang tidak didapatkan dari menonton. Strategi yang efektif perlu diterapkan agar buku tetap memiliki daya tarik di mata generasi yang sudah sangat terbiasa dengan gawai. Salah satu langkah awal adalah dengan memperkenalkan buku-buku yang memiliki ilustrasi menarik serta tema yang sesuai dengan minat pribadi anak. Orang tua harus menjadi teladan utama dengan menunjukkan bahwa membaca adalah aktivitas yang menyenangkan dan bukan sekadar tuntutan tugas formal. Lingkungan rumah yang kaya akan bahan bacaan akan merangsang rasa ingin tahu anak secara alami tanpa perlu adanya paksaan. Memulai dari durasi yang singkat namun konsisten setiap hari dapat menjadi fondasi yang kuat untuk membangun kebiasaan jangka panjang.
Kualitas interaksi saat membaca bersama juga memegang peranan penting dalam menarik minat anak terhadap narasi tertulis yang ada di buku. Mendongeng dengan suara yang ekspresif dapat membantu anak membayangkan karakter dan alur cerita sehingga mereka merasa terlibat secara emosional di dalamnya. Setelah membaca, ajaklah anak untuk berdiskusi ringan mengenai isi cerita atau menebak apa yang akan terjadi selanjutnya pada karakter tersebut. Proses diskusi ini secara tidak langsung mengasah kemampuan analisis dan daya kritis anak terhadap sebuah informasi yang mereka terima. Berikan kebebasan kepada anak untuk memilih jenis buku yang mereka sukai, baik itu komik, ensiklopedia, maupun buku cerita fiksi. Jangan terlalu terburu-buru menuntut anak untuk membaca buku yang berat jika mereka belum merasa nyaman dengan teks yang terlalu padat. Tujuan utamanya adalah menciptakan asosiasi positif antara buku dan perasaan bahagia dalam pikiran bawah sadar sang anak tersebut. Dengan cara ini, buku tidak akan terlihat sebagai benda mati yang membosankan, melainkan sebagai jendela menuju petualangan yang tak terbatas.
Pengaturan waktu penggunaan gawai atau screen time harus dilakukan secara bijak agar tersedia ruang bagi aktivitas literasi di sela kesibukan. Jadwalkan waktu khusus tanpa perangkat elektronik di mana seluruh anggota keluarga berkumpul untuk membaca buku pilihan mereka masing-masing dalam keheningan. Hal ini menciptakan suasana yang tenang dan mendukung fokus yang mendalam bagi anak untuk menyerap setiap kalimat yang dibaca. Selain buku cetak, penggunaan buku digital atau e-book yang interaktif juga bisa menjadi jembatan bagi anak yang sangat menyukai teknologi. Berikan apresiasi berupa buku baru atau kunjungan ke toko buku sebagai hadiah atas pencapaian mereka dalam menyelesaikan sebuah bacaan tertentu. Membangun komunitas kecil di lingkungan sekitar untuk bertukar buku juga dapat meningkatkan antusiasme anak karena ada unsur interaksi sosial. Literasi harus dikemas sebagai gaya hidup yang keren dan kekinian agar anak tidak merasa ketinggalan zaman saat memegang buku. Kekuatan cerita yang kuat akan selalu mampu mengalahkan daya tarik visual singkat jika anak sudah merasakan kenikmatan dalam berimajinasi.
Dampak positif dari minat baca yang tinggi akan terlihat pada kemampuan komunikasi dan luasnya kosakata yang dimiliki oleh seorang anak. Mereka akan lebih mudah memahami instruksi yang kompleks serta mampu mengekspresikan pendapat mereka dengan cara yang lebih terstruktur dan logis. Membaca juga melatih empati karena anak diajak untuk memahami berbagai situasi dan perasaan tokoh dari latar belakang yang berbeda. Di tengah gempuran informasi yang serba cepat, kemampuan untuk duduk diam dan membaca memberikan ketenangan mental yang sangat diperlukan. Anak yang gemar membaca cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih stabil karena fondasi pemahaman bahasanya sudah terbentuk dengan sangat kuat. Kebiasaan ini juga akan menjadi bekal berharga bagi mereka saat harus menghadapi literasi digital yang jauh lebih menantang. Menghargai proses membaca jauh lebih penting daripada sekadar menghitung berapa banyak halaman yang berhasil diselesaikan oleh anak dalam sehari. Konsistensi dalam memberikan akses terhadap bacaan bermutu adalah investasi terbaik untuk masa depan intelektual anak-anak kita semua di masa depan.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif dari seluruh lapisan masyarakat untuk terus mengampanyekan pentingnya literasi di tengah era digital. Perubahan gaya hidup yang serba instan tidak boleh menggerus kecintaan kita terhadap kedalaman ilmu pengetahuan yang ditawarkan oleh buku-buku bermutu. Setiap halaman yang dibaca adalah langkah menuju pemahaman dunia yang lebih luas dan perspektif yang jauh lebih bijaksana bagi kita. Dukungan lingkungan yang positif akan membuat anak merasa bahwa membaca adalah kebutuhan pokok untuk pertumbuhan jiwa dan pikiran mereka masing-masing. Mari kita terus berupaya menyediakan bahan bacaan yang inspiratif dan mudah dijangkau oleh seluruh anak di berbagai pelosok daerah. Tantangan video pendek memang nyata, namun kekuatan sebuah literasi yang mendalam tetap tidak akan pernah bisa tergantikan oleh apa pun. Dengan niat yang tulus dan cara yang kreatif, kita bisa menyelamatkan minat baca generasi penerus bangsa dari ancaman kedangkalan informasi. Semoga semangat literasi terus berkobar dan menjadi obor penerang bagi masa depan peradaban manusia yang lebih cerdas dan beradab.
Penulis: Mutia Syafa Yunita
Foto: Google