Menyongsong Kesetaraan: Kesiapan Mahasiswa PGSD di Kelas Inklusif
pgsd.fip.unesa.ac.id – Mengajar di kelas inklusif bukan sekadar tugas tambahan, melainkan sebuah panggilan untuk menciptakan ruang belajar yang adil bagi setiap anak, termasuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Sebagai mahasiswa PGSD di semester dua, kami dibekali landasan filosofis, empiris, dan pedagogis yang kuat untuk memahami bahwa setiap peserta didik memiliki hak yang sama dalam mendapatkan layanan pendidikan di sekolah reguler. Persiapan ini dimulai dengan membedah mata kuliah Pendidikan Inklusif (PI) dan jenis-jenis layanan yang tersedia, agar kami tidak hanya sekadar mengajar, tetapi mampu menjadi pendidik yang peka terhadap keberagaman. Kami belajar bahwa sekolah inklusif adalah miniatur masyarakat yang menghargai perbedaan, di mana peran guru sangat sentral dalam memastikan tidak ada satu pun anak yang merasa terpinggirkan hanya karena keterbatasan fisiknya.
Lebih jauh lagi, kompetensi kami diperdalam melalui penguasaan teknis identifikasi dan asesmen kemampuan awal peserta didik penyandang disabilitas. Kami dilatih untuk menyusun instrumen identifikasi yang akurat guna memetakan potensi dan hambatan siswa sebelum proses pembelajaran dimulai. Tidak hanya berhenti pada pendataan, mahasiswa PGSD juga dituntut mahir dalam melakukan adaptasi kurikulum dan pengelolaan pembelajaran yang fleksibel, mulai dari penyusunan program pembelajaran individual hingga penyesuaian sarana dan prasarana kelas. Pemahaman mengenai pendekatan saintifik yang melibatkan kegiatan mengamati, menanya, menalar, mencoba, hingga mengomunikasikan, diintegrasikan sedemikian rupa agar tetap efektif bagi ABK. Kami juga mempelajari mekanisme penilaian hasil belajar dan penulisan rapor khusus, sehingga setiap progres kecil yang dicapai siswa berkebutuhan khusus dapat terdokumentasi dan diapresiasi dengan tepat.
Kesiapan kami sebagai calon guru masa depan juga diperkaya dengan perspektif sejarah, baik mengenai perkembangan pendidikan inklusif di Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga era tahun 2009 ke atas, maupun studi banding dengan negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, hingga sistem di Eropa seperti Finlandia. Memahami sejarah dan sistem di negara lain memberikan kami pandangan luas bahwa inklusivitas adalah tren global menuju kemanusiaan yang lebih baik.
Penulis: Elis