Merawat Kearifan Lokal Tedhak Siten Melalui Mata Kuliah Bahasa Daerah di PGSD
Kearifan lokal merupakan bagian penting dari identitas budaya suatu masyarakat. Di tengah arus globalisasi yang menghadirkan perkembangan teknologi dan budaya populer yang begitu cepat, tradisi-tradisi lokal sering kali terpinggirkan dan perlahan dilupakan generasi muda. Salah satu tradisi yang sarat makna adalah tedhak siten, sebuah upacara adat dalam budaya Jawa yang dilakukan ketika seorang bayi berusia tujuh bulan dan mulai belajar menapakkan kaki di tanah. Tradisi ini tidak hanya melambangkan pertumbuhan fisik anak, tetapi juga mengandung nilai-nilai spiritual, moral, dan sosial yang penting bagi pembentukan karakter. Dalam konteks pendidikan calon guru sekolah dasar, pengenalan dan pelestarian tradisi ini dapat dilakukan melalui mata kuliah Bahasa Daerah yang menjadi bagian dari kurikulum di jurusan PGSD.
Mata kuliah Bahasa Daerah memiliki peran strategis dalam memperkenalkan mahasiswa pada kekayaan budaya lokal. Melalui materi yang tidak hanya berfokus pada aspek bahasa, tetapi juga konteks budaya yang melingkupinya, mahasiswa PGSD dapat memahami bahwa bahasa dan tradisi adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Pengintegrasian materi tentang tedhak siten ke dalam pembelajaran Bahasa Daerah memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mempelajari makna filosofis tradisi tersebut, simbol-simbol budaya yang digunakan, serta nilai-nilai yang diwariskan oleh masyarakat Jawa dari generasi ke generasi. Pemahaman ini menjadi bekal penting bagi mereka sebagai calon guru yang kelak akan mengajar siswa sekolah dasar dan memperkenalkan budaya lokal di lingkungan sekolah.
Penerapan tradisi tedhak siten dalam pembelajaran Bahasa Daerah tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga dapat dilakukan melalui pendekatan praktik. Mahasiswa dapat diajak mengamati prosesi tedhak siten melalui video, dokumenter, atau bahkan observasi langsung di masyarakat kemudian mempraktikkannya dalam kelas. Aktivitas ini memungkinkan mahasiswa memahami secara utuh tahapan-tahapan upacara, mulai dari memandikan anak, meletakkannya di atas jadah warna-warni, hingga prosesi memilih barang sebagai simbol arah masa depan. Melalui kegiatan semacam ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang unsur budaya, tetapi juga mengembangkan kemampuan analisis terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam setiap rangkaian prosesi.
Selain memperkuat pemahaman budaya, pengintegrasian tedhak siten dalam pembelajaran Bahasa Daerah juga dapat mengembangkan kreativitas mahasiswa. Mereka dapat diminta membuat naskah drama, menulis cerita rakyat versi modern, membuat poster edukasi budaya, atau mempresentasikan makna tedhak siten dengan gaya pembelajaran kreatif yang bisa diaplikasikan di sekolah dasar. Aktivitas-aktivitas ini membuat pembelajaran lebih hidup dan relevan, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa calon guru memiliki peran penting dalam merawat tradisi. Dengan mempersiapkan konten yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa, mahasiswa PGSD belajar untuk menghargai budaya lokal dan siap meneruskan nilai tersebut kepada generasi berikutnya.
Dalam proses pembelajaran, penguatan nilai karakter menjadi salah satu aspek penting. Tradisi tedhak siten mengandung nilai gotong royong, penghormatan kepada orang tua, rasa syukur, serta harapan akan masa depan yang baik. Nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk diintegrasikan dalam pembelajaran di SD yang menekankan perkembangan karakter siswa. Melalui pemahaman mendalam terhadap tedhak siten, mahasiswa PGSD dapat merancang pembelajaran yang tidak hanya fokus pada pengetahuan kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter anak. Misalnya, guru dapat mengajarkan arti kerja sama ketika keluarga berkumpul untuk mempersiapkan tedhak siten, atau makna syukur yang tercermin dari doa dan harapan dalam prosesi tersebut.
Penerapan kearifan lokal dalam pembelajaran Bahasa Daerah juga membantu mahasiswa membangun kepekaan budaya. Sebagai calon guru, mereka belajar bahwa tugas guru tidak hanya mengajar materi akademik, tetapi juga menjadi penjaga nilai budaya yang hidup di masyarakat. Dalam konteks sekolah dasar yang semakin beragam, pemahaman terhadap budaya lokal dapat membantu guru membangun ruang kelas yang toleran, inklusif, dan menghargai identitas siswa. Dengan mengenal tradisi tedhak siten, mahasiswa PGSD juga belajar bahwa budaya lokal adalah kekayaan yang patut dibanggakan dan diteruskan, bukan sekadar pengetahuan yang diceritakan sesekali.
Secara keseluruhan, pengintegrasian tradisi tedhak siten dalam mata kuliah Bahasa Daerah di PGSD merupakan langkah strategis untuk merawat kearifan lokal sekaligus memperkuat kompetensi calon guru. Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena menghubungkan bahasa, budaya, kreativitas, dan nilai karakter dalam satu kesatuan. Dengan memahami tradisi leluhur, mahasiswa tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga penjaga budaya yang siap mengenalkan nilai-nilai lokal kepada siswa sekolah dasar. Upaya ini menjadi salah satu bentuk nyata pelestarian budaya dalam dunia pendidikan, sekaligus memastikan bahwa tradisi-tradisi luhur seperti tedhak siten tetap dikenal, dihargai, dan hidup di hati generasi muda.
Penulis: Shabrina Muhamida Fitri
Sumber: Dokumentasi