Minat Baca Peserta Didik Masih Menjadi Perhatian Serius
pgsd.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Minat baca peserta didik masih menjadi perhatian serius di berbagai wilayah, seiring dengan rendahnya kebiasaan membaca di kalangan usia sekolah. Kondisi ini terlihat dari masih terbatasnya waktu yang digunakan untuk membaca di luar aktivitas belajar formal. Banyak peserta didik lebih tertarik pada hiburan visual dibandingkan bahan bacaan tertulis. Perkembangan teknologi dinilai turut memengaruhi perubahan pola konsumsi informasi. Akses gawai yang mudah membuat bacaan panjang semakin jarang diminati. Akibatnya, kemampuan memahami teks secara mendalam belum berkembang optimal. Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan kualitas literasi generasi muda. Upaya peningkatan minat baca pun dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Rendahnya minat baca berdampak langsung pada kemampuan berpikir kritis dan daya analisis peserta didik. Ketika kebiasaan membaca tidak terbentuk sejak dini, proses memahami informasi menjadi kurang maksimal. Peserta didik cenderung mengandalkan ringkasan instan dibandingkan membaca sumber secara utuh. Hal ini membuat pemahaman konsep menjadi dangkal. Selain itu, kemampuan menulis juga ikut terpengaruh akibat minimnya referensi bacaan. Kosakata yang terbatas sering kali menjadi kendala dalam menyampaikan gagasan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi prestasi akademik. Oleh karena itu, literasi membaca masih menjadi isu penting dalam dunia pendidikan.
Berbagai faktor disebut menjadi penyebab rendahnya minat baca peserta didik. Lingkungan yang kurang mendukung kebiasaan membaca menjadi salah satu faktor utama. Ketersediaan bahan bacaan yang menarik dan sesuai usia juga masih terbatas di sejumlah daerah. Selain itu, budaya membaca di lingkungan keluarga belum terbentuk secara merata. Waktu luang peserta didik lebih banyak dihabiskan untuk aktivitas hiburan. Kurangnya teladan dalam membaca turut memengaruhi minat mereka. Bacaan sering kali dianggap sebagai kewajiban, bukan kebutuhan. Persepsi ini membuat kegiatan membaca terasa membosankan.
Meski demikian, berbagai upaya terus dilakukan untuk menumbuhkan kembali minat baca peserta didik. Pengenalan bacaan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari dinilai dapat meningkatkan ketertarikan. Metode pembelajaran yang kreatif juga dianggap mampu membuat kegiatan membaca lebih menyenangkan. Pemanfaatan media digital secara positif menjadi salah satu alternatif. Bacaan interaktif dinilai lebih mudah menarik perhatian peserta didik. Selain itu, kegiatan membaca bersama dapat menumbuhkan rasa kebersamaan. Lingkungan belajar yang mendukung literasi juga menjadi faktor penting. Dengan pendekatan yang tepat, minat baca diharapkan dapat meningkat.
Perhatian terhadap minat baca
peserta didik dinilai tidak bisa dilakukan secara instan. Diperlukan
konsistensi dan kerja sama dari berbagai pihak untuk menciptakan budaya
membaca. Pembiasaan membaca perlu dilakukan secara perlahan dan berkelanjutan.
Peserta didik juga perlu diberikan ruang untuk memilih bacaan sesuai minatnya.
Dengan demikian, membaca tidak lagi dianggap sebagai beban. Kesadaran akan
pentingnya membaca perlu ditanamkan sejak dini. Literasi yang kuat diharapkan
mampu membentuk generasi yang kritis dan berwawasan luas. Minat baca yang
meningkat menjadi langkah awal menuju kualitas pendidikan yang lebih baik.
Penulis: Hanaksa Erviga Putri
Suprapto