NARCOS: SISI KEMANUSIAAN ESCOBAR DALAM BALUTAN LAYAR KACA
pgsd.fip.unesa.ac.id Surabaya — Pablo Escobar adalah sosok gembong narkoba legendaris yang menguasai era 1980–1990-an. Namanya identik dengan kekuasaan, kekejaman, dan tragedi berdarah yang menewaskan banyak orang. Kisah hidupnya yang penuh kontroversi kemudian menginspirasi lahirnya berbagai karya buku dan film. Salah satunya adalah Narcos, serial populer yang berhasil meraih rating tinggi sebesar 8.7/10 di IMDb (Internet Movie Database).
Serial Narcos
menceritakan bagaimana Pablo Escobar, yang diperankan oleh Wagner Moura,
mengembangkan bisnis distribusinya yang bermula dari cerutu hingga menjadi
jaringan kokain terbesar di dunia. Dari Medellín hingga ke Negeri Paman Sam,
Escobar membangun kekaisaran narkoba yang membuat namanya disegani sekaligus
ditakuti.
Dari segi
penggarapan, Narcos berhasil menghadirkan atmosfer otentik lewat penggunaan
bahasa Spanyol dan narasi dokumenter yang menyelip di setiap episode.
Sinematografinya terasa hidup, menampilkan Kolombia 1980-an dengan warna yang
suram namun indah. Keberhasilan serial ini terletak pada alur ceritanya yang
mampu menggambarkan sosok Escobar dengan sisi manusiawinya. Namun, karena
kemanusiawiannya itulah Narcos sempat menuai kekecewaan dari sang putra
gembong narkoba, Sebastián Marroquín, yang dulunya dikenal sebagai Juan Pablo
Escobar.
Marroquín
menilai Narcos terlalu “ramah” dalam menampilkan sosok ayahnya.
Menurutnya, kenyataan jauh lebih kejam dan brutal daripada yang terlihat di
layar. “Ayah saya jauh lebih kejam daripada yang terlihat di acara itu. Ia
meneror seluruh negeri,” ujarnya, dikutip dari laman El País.
Pada
akhirnya, Narcos berhasil menghadirkan potret Escobar dengan segala sisi
kontroversinya: kejeniusan, kekejaman, sekaligus kemanusiaan yang tersisa.
Meski menuai kritik dari keluarga Escobar, serial ini tetap menjadi salah satu
karya yang membuka mata dunia tentang betapa gelapnya harga dari kekuasaan dan
ketamakan, sebuah kisah yang mengingatkan bahwa di balik kejayaan, selalu ada
peluru yang menunggu di ujung perjalanan.
Penulis: Zahira Auliya Soekandar (PGSD)
Dokumentasi: Vox