One Single Thread of Gold: Kisah Takdir dalam ‘Invisible String’ dan Teori Benang Merah
pgsd.fip.unesa.ac.id Surabaya — Ada keyakinan kuno bahwa
dua manusia yang berjodoh diikat oleh benang merah tak terlihat: tipis, sabar,
dan tidak pernah putus. Teori red string ini hidup dari legenda Tiongkok
tentang benang yang menghubungkan dua hati, bahkan sebelum keduanya tahu bahwa
mereka sedang saling menuju. Dalam mitos itu, takdir bekerja lirih, seperti
tarikan halus yang mengantar dua orang melewati luka, persimpangan, dan
kebetulan demi kebetulan.
Di sinilah Taylor Swift masuk, menyanyikan versi modern dari
legenda itu melalui lagu “Invisible String.” Dengan nada lembut dan lirik
puitis, ia merangkum perjalanan cinta yang terasa sudah lama dirancang semesta.
“One single thread of gold tied me to you,” tulisnya seolah menegaskan bahwa
bukan hanya benang merah yang mengikat, tapi benang emas: lebih hangat, lebih
berkilau, lebih pribadi.
Swift menarasikan cinta sebagai rangkaian momen kecil yang
saling bertaut: sebuah kota, sebuah toko, sebuah masa lalu yang pahit namun
perlu dilalui. Semua itu seperti simpul-simpul takdir yang perlahan mengarah
pada satu perjumpaan yang akhirnya terasa begitu masuk akal.
Ketika teori benang merah berbicara tentang takdir cinta,
“Invisible String” memberi nadanya: lembut, sunyi, namun penuh keyakinan bahwa
setiap langkah, baik yang indah maupun yang menyakitkan membawa kita semakin
dekat pada seseorang yang sejak awal telah terikat pada ujung benang yang sama.
Penulis: Zahira Auliya Soekandaar (PGSD)
Dokumentasi: Instagram @rachunderscore