Pendekatan Holistik dalam Literasi Membentuk Karakter Siswa
pgsd.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Pendekatan holistik
dalam literasi kini menjadi fokus utama dalam upaya membentuk karakter siswa
secara menyeluruh. Metode ini tidak hanya menekankan kemampuan membaca dan
menulis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dan sosial. Siswa diajak
untuk memahami konten bacaan secara kritis sekaligus mengaitkannya dengan
pengalaman sehari-hari. Kegiatan literasi dikemas secara interaktif agar siswa
lebih termotivasi untuk belajar. Peningkatan keterampilan berpikir kritis
menjadi salah satu tujuan utama dari pendekatan ini. Guru berperan sebagai
fasilitator yang membantu siswa menggali makna dari bacaan. Aktivitas diskusi
kelompok dan refleksi personal menjadi bagian penting dalam proses
pembelajaran. Dampak positif dari pendekatan ini terlihat dari peningkatan
minat baca dan kesadaran sosial siswa.
Selain kemampuan akademik,
pendekatan holistik juga menekankan pengembangan karakter siswa. Literasi
digunakan sebagai media untuk menumbuhkan rasa empati dan tanggung jawab. Siswa
diajak untuk mengaitkan cerita atau informasi dengan kehidupan nyata mereka.
Hal ini membantu mereka memahami konsekuensi dari tindakan dan pilihan yang
mereka buat. Aktivitas membaca bersama atau proyek literasi kreatif mendorong
kerja sama dan komunikasi efektif. Siswa belajar menghargai pendapat orang lain
sekaligus mengembangkan sikap kritis. Pendekatan ini juga melatih ketekunan dan
kesabaran melalui proses memahami teks yang kompleks. Hasilnya, karakter siswa
terbentuk secara lebih seimbang, tidak hanya cerdas tetapi juga bijaksana.
Kegiatan literasi holistik
memadukan berbagai metode untuk meningkatkan keterlibatan siswa. Media digital,
buku cerita, dan bahan bacaan tematik digunakan untuk menstimulasi minat
belajar. Siswa diajak untuk menganalisis informasi dan mengekspresikan pendapat
melalui tulisan atau diskusi lisan. Aktivitas kreatif seperti menulis cerita,
membuat poster, atau mempresentasikan ide menjadi bagian dari pengalaman
belajar. Metode ini memungkinkan siswa belajar sambil bereksperimen dan
menemukan solusi secara mandiri. Guru mendukung proses ini dengan memberi umpan
balik konstruktif. Pendekatan holistik juga mendorong siswa untuk mengenali
kekuatan dan kelemahan diri. Hal ini membantu mereka membangun rasa percaya
diri dan motivasi intrinsik.
Selain membentuk karakter, literasi
holistik menumbuhkan keterampilan sosial yang kuat. Siswa belajar bekerja sama
dalam kelompok dan menghargai perbedaan pendapat. Diskusi tentang nilai-nilai
moral dalam bacaan menguatkan kesadaran etika mereka. Aktivitas kolaboratif ini
juga mendorong kreativitas dan inovasi dalam menyelesaikan masalah. Proses
pembelajaran yang terintegrasi membuat siswa lebih peka terhadap lingkungan
sekitar. Mereka mampu mengaitkan pengetahuan literasi dengan situasi nyata.
Kegiatan ini menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang
lain. Akhirnya, siswa tidak hanya berkembang secara intelektual, tetapi juga
emosional dan sosial.
Penerapan pendekatan holistik dalam
literasi menunjukkan hasil yang menjanjikan. Siswa menjadi lebih antusias dalam
belajar dan aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan. Keterampilan berpikir
kritis dan kemampuan menyampaikan pendapat meningkat secara signifikan.
Karakter siswa juga berkembang, termasuk kemampuan mengendalikan diri dan
empati terhadap orang lain. Aktivitas literasi yang bervariasi membuat
pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan. Orang tua dan lingkungan sekitar
turut melihat perubahan positif pada anak-anak. Dengan pendekatan ini, literasi
tidak lagi sekadar membaca dan menulis, tetapi menjadi alat pengembangan
karakter. Siswa diharapkan siap menghadapi tantangan masa depan dengan sikap
yang matang dan bertanggung jawab.
Penulis: Hanaksa Erviga Putri
Suprapto