Pendidikan Keterampilan Hidup Dinilai Perlu Diperluas
pgsd.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Pendidikan
keterampilan hidup dinilai perlu diperluas seiring dengan meningkatnya
tantangan yang dihadapi generasi muda. Berbagai pihak menilai bahwa penguasaan
keterampilan praktis sama pentingnya dengan pencapaian akademik. Keterampilan
hidup dianggap mampu membantu individu menghadapi situasi nyata dalam kehidupan
sehari-hari. Kemampuan seperti komunikasi, pengelolaan emosi, dan pemecahan
masalah menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa bekal tersebut, peserta didik dinilai
rentan mengalami kesulitan beradaptasi. Perubahan sosial dan ekonomi yang cepat
turut memperkuat urgensi pendidikan ini. Keterampilan hidup juga dinilai
berperan dalam membentuk karakter mandiri. Oleh karena itu, perluasan
pendidikan keterampilan hidup menjadi perhatian serius dunia pendidikan.
Keterampilan hidup mencakup
berbagai aspek yang berkaitan langsung dengan kehidupan sosial dan personal.
Aspek tersebut meliputi kemampuan bekerja sama, berpikir kritis, dan mengambil
keputusan secara bertanggung jawab. Selain itu, keterampilan mengelola keuangan
sederhana juga dinilai penting untuk diperkenalkan sejak dini. Pendidikan ini
tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga praktik nyata. Pendekatan
pembelajaran yang kontekstual dinilai lebih efektif dalam menanamkan
keterampilan tersebut. Peserta didik dapat belajar dari pengalaman langsung
yang relevan dengan kehidupan mereka. Dengan demikian, proses belajar menjadi
lebih bermakna. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapan menghadapi masa
depan.
Perluasan pendidikan keterampilan
hidup juga dianggap mampu menjembatani kesenjangan antara pendidikan dan
kebutuhan nyata masyarakat. Banyak lulusan dinilai memiliki pengetahuan
akademik, tetapi kurang siap menghadapi tantangan kehidupan. Kondisi ini mendorong
munculnya tuntutan agar pendidikan lebih aplikatif. Keterampilan hidup dinilai
dapat membantu individu lebih adaptif terhadap perubahan. Selain itu, kemampuan
ini juga berkontribusi pada peningkatan kepercayaan diri. Peserta didik yang
memiliki keterampilan hidup cenderung lebih mandiri. Mereka juga dinilai lebih
mampu menghadapi tekanan sosial. Oleh sebab itu, pendidikan keterampilan hidup
semakin dianggap relevan.
Di sisi lain, penerapan pendidikan
keterampilan hidup masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah
keterbatasan pemahaman mengenai konsep keterampilan hidup itu sendiri. Tidak
semua pihak memiliki pandangan yang sama tentang ruang lingkupnya. Selain itu,
metode pembelajaran yang digunakan belum sepenuhnya mendukung pengembangan
keterampilan tersebut. Proses evaluasi juga dinilai masih berfokus pada hasil
akademik. Akibatnya, keterampilan nonakademik sering kurang mendapatkan
perhatian. Padahal, keterampilan tersebut berperan penting dalam kehidupan
jangka panjang. Diperlukan upaya konsisten untuk mengintegrasikannya dalam
pembelajaran. Hal ini menjadi pekerjaan bersama yang perlu ditindaklanjuti.
Ke depan, pendidikan keterampilan
hidup diharapkan dapat diterapkan secara lebih luas dan berkelanjutan.
Pembelajaran diharapkan mampu mengakomodasi kebutuhan peserta didik secara
holistik. Keseimbangan antara pengetahuan dan keterampilan menjadi tujuan utama.
Pendidikan tidak hanya diarahkan pada pencapaian nilai, tetapi juga kesiapan
hidup. Dengan keterampilan hidup yang memadai, peserta didik diharapkan mampu
menghadapi berbagai situasi. Mereka juga diharapkan dapat berkontribusi secara
positif di lingkungan sekitar. Pendidikan keterampilan hidup dinilai sebagai
investasi jangka panjang. Oleh karena itu, perluasan penerapannya menjadi
langkah yang dinilai penting.
Penulis:
Hanaksa Erviga Putri Suprapto