Pengaruh K-Pop terhadap Motivasi Belajar Remaja
Dalam
beberapa tahun terakhir, budaya K-Pop berkembang semakin pesat dan berhasil
menarik perhatian remaja di berbagai negara, termasuk Indonesia. Musik yang
energik, gaya berpakaian yang khas, visual yang menarik, serta kisah perjuangan
idol yang menginspirasi membuat K-Pop menjadi fenomena global. Di tengah
popularitasnya, muncul pertanyaan apakah kesukaan terhadap K-Pop berpengaruh
pada motivasi belajar remaja saat ini? Sebuah penelitian yang dilakukan di RW
03 Kelurahan Pangkalan Kerinci Timur berusaha menjawab pertanyaan tersebut
dengan melibatkan 82 remaja sebagai responden. Penelitian ini menggunakan
analisis statistik untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara ketertarikan
pada K-Pop dan motivasi belajar remaja di wilayah tersebut.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa minat remaja terhadap K-Pop berada pada kategori
tinggi, dengan nilai rata-rata 3,23. Hal ini mengindikasikan bahwa K-Pop telah
diterima dengan sangat baik oleh remaja, terutama oleh remaja perempuan berusia
sekitar 13 tahun. Mereka banyak terpengaruh oleh gaya makeup, fashion, serta
citra idol yang mereka kagumi. Ketertarikan ini tidak hanya bersifat hiburan,
tetapi juga berhubungan dengan proses pencarian identitas yang umum terjadi
pada masa remaja. Di sisi lain, motivasi belajar remaja dalam penelitian
tersebut juga berada pada kategori tinggi, dengan nilai mean 3,16. Remaja
menunjukkan keinginan yang kuat untuk berhasil dalam pembelajaran, ditandai
dengan tingginya skor pada indikator “hasrat dan keinginan untuk berhasil”.
Dengan demikian, meskipun mereka menggemari K-Pop, sebagian besar dari mereka
tetap memiliki kesadaran untuk fokus pada pendidikan dan prestasi akademik
mereka.
Pertanyaan
pentingnya adalah apakah tingginya minat terhadap K-Pop ini benar-benar memengaruhi
motivasi belajar? Berdasarkan hasil analisis regresi, diketahui bahwa K-Pop
memberikan pengaruh sebesar 22,9% terhadap motivasi belajar remaja. Persentase
ini tergolong rendah, menandakan bahwa meskipun ada pengaruh, besarnya tidak
dominan. Sebanyak 77,1% motivasi belajar dipengaruhi oleh faktor lain, seperti
dukungan keluarga, lingkungan sekolah, minat pribadi, dan kondisi psikologis
remaja itu sendiri. Hubungan antara keduanya juga terbukti signifikan
berdasarkan uji korelasi Pearson dengan nilai 0,478. Artinya, semakin tinggi
tingkat kesukaan remaja pada K-Pop, maka ada kecenderungan motivasi belajar
mereka juga meningkat, meskipun peningkatan tersebut tidak terlalu besar. Hal
ini dapat diasosiasikan dengan kisah perjuangan idol yang sering menjadi inspirasi
bagi remaja untuk bekerja keras dan mencapai cita-cita mereka. Banyak idol
K-Pop yang memulai karier dari pelatihan bertahun-tahun, dan semangat ini kerap
menjadi contoh bagi penggemarnya.
Namun,
penelitian juga mencatat sisi lain dari fenomena ini. Bagi sebagian remaja,
K-Pop justru menjadi distraksi yang membuat mereka menghabiskan banyak waktu
menonton konten, mengikuti berita idol, atau membeli merchandise mahal.
Beberapa orang tua mengungkapkan kekhawatiran bahwa kesukaan berlebihan terhadap
K-Pop membuat anak kurang fokus belajar, terutama pada remaja berusia 13–15
tahun. Meski demikian, remaja yang lebih besar umumnya sudah mampu mengatur
waktu dan menjadikan K-Pop sekadar hiburan sampingan yang tidak mengganggu
aktivitas belajar mereka.
Dari
keseluruhan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa K-Pop memang memiliki
pengaruh terhadap motivasi belajar remaja, namun pengaruhnya tidak terlalu
besar. K-Pop dapat menjadi sumber inspirasi positif ketika dikonsumsi secara
bijak, tetapi juga dapat menimbulkan dampak negatif jika dinikmati secara
berlebihan. Pada titik inilah peran keluarga, sekolah, dan kemampuan remaja
dalam mengontrol diri menjadi sangat penting.
Dengan
demikian, fenomena K-Pop bukan semata tentang hiburan dan idola, tetapi juga
tentang bagaimana remaja memaknai dan menyeimbangkan minat mereka dengan
tanggung jawab pendidikan. Ketika dikelola dengan baik, K-Pop dapat memberikan
dorongan semangat. Sebaliknya, tanpa pengendalian diri, minat ini dapat membuat
remaja lalai terhadap kewajiban belajarnya. Remaja tetap membutuhkan bimbingan,
batasan, dan kemampuan manajemen diri untuk memastikan bahwa minat dalam budaya
populer tidak menggeser prioritas utama mereka, yaitu belajar dan membangun
masa depan.
Penulis: Shabrina Muhamida Fitri
Sumber: Putra, M. J. A., Jais, M., & Permata sari,
A. D. (2023).