Peran Krusial Mahasiswa PGSD dalam Membangun Budaya Literasi Dini yang Kuat
Literasi, yang meliputi kemampuan membaca, menulis, dan
berhitung (calistung), bukanlah sekadar mata pelajaran tambahan di Sekolah
Dasar (SD), melainkan fondasi utama dari seluruh proses pembelajaran.
Sayangnya, data studi internasional seperti PISA seringkali menempatkan
kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia di peringkat bawah. Kesenjangan
ini menunjukkan bahwa pendekatan pengajaran literasi dini yang diterapkan
selama ini perlu dievaluasi dan diperkuat. Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah
Dasar (PGSD) adalah generasi yang paling strategis untuk membawa perubahan
mendasar ini, karena mereka akan menjadi motor penggerak perbaikan di
kelas-kelas awal.
Literasi dini harus dipandang sebagai sebuah ekosistem yang saling terintegrasi, bukan keterampilan yang terpisah-pisah.
- Literasi Membaca: Dari Mengenal
Huruf Menuju Memahami Makna
Membaca di SD tidak boleh berhenti
pada tahap dekode (sekadar mengucapkan kata-kata). Tantangan utama bagi guru
adalah membawa siswa ke tahap komprehensi (pemahaman makna). Strategi yang
harus dikuasai mahasiswa PGSD meliputi:
● Pentingnya Phonics: Mengajarkan
hubungan antara suara (sound) dan huruf (fonem dan grafem) secara sistematis,
bukan hanya menghafal abjad. Metode ini terbukti lebih efektif dalam membantu
siswa membaca kata-kata baru.
● Membaca Nyaring Interaktif (Shared
Reading): Guru membaca buku dengan nyaring, menggunakan ekspresi, dan berhenti
sesekali untuk mengajak siswa memprediksi cerita, mengajukan pertanyaan, atau
mengaitkan cerita dengan pengalaman pribadi mereka. Aktivitas ini membangun
kosakata, pemahaman kontekstual, dan kecintaan terhadap buku.
● Teks Bertingkat (Leveled Texts):
Guru harus mampu memilih buku atau bacaan yang sesuai dengan tingkat kemampuan
membaca setiap siswa, memastikan bahwa tantangan yang diberikan tidak terlalu
mudah maupun terlalu sulit (zona perkembangan proksimal).
- Literasi Menulis: Dari Mengeja
Kalimat Menuju Mengekspresikan Gagasan
Menulis seringkali menjadi momok
bagi siswa karena dianggap sulit dan kaku. Padahal, menulis adalah pintu
gerbang menuju kemampuan berpikir terstruktur. Mahasiswa PGSD harus menguasai
pedagogi yang memandang menulis sebagai proses kreatif:
● Menulis Jurnal Harian: Mendorong
siswa menulis bebas tentang pengalaman atau perasaan mereka, tanpa terlalu
membebani dengan aturan tata bahasa di awal. Tujuannya adalah membangun
kebiasaan dan kepercayaan diri dalam mengekspresikan gagasan.
● Model Penulisan (Modeling): Guru
harus memperagakan (mencontohkan) proses menulis di depan siswa, mulai dari
tahap perencanaan (membuat kerangka), penyusunan draf, hingga revisi. Siswa
perlu melihat bahwa menulis adalah serangkaian langkah yang bisa dipelajari,
bukan hasil instan.
● Menulis Berbasis Genre: Mengajarkan
berbagai jenis tulisan (misalnya, surat, cerita pendek, laporan observasi
sederhana) sehingga siswa memahami bahwa setiap jenis tulisan memiliki tujuan
dan struktur yang berbeda.
- Numerasi (Literasi Berhitung):
Melampaui Rumus
Numerasi bukan hanya tentang
menghitung cepat atau menghafal rumus matematika. Numerasi adalah kemampuan
menggunakan konsep matematika untuk menafsirkan, menganalisis, dan
menyelesaikan masalah dalam konteks kehidupan nyata. Strategi pengajaran
numerasi yang efektif harus ditekankan di PGSD:
● Pembelajaran Konkret ke Abstrak:
Selalu mulai dengan benda konkret (kancing, balok, buah-buahan) sebelum beralih
ke representasi gambar, dan barulah ke simbol atau rumus abstrak. Misalnya,
ajarkan penjumlahan menggunakan mainan sebelum memperkenalkan simbol 1+1=2.
● Matematika Kontekstual:
Menghubungkan konsep matematika dengan situasi sehari-hari. Contohnya,
mengajarkan pembagian dengan membagi pizza atau mengajarkan pecahan melalui
resep masakan. Ini membuat matematika terasa relevan dan bermakna.
● Penggunaan Alat Peraga yang Kreatif:
Mengintegrasikan alat peraga digital dan fisik untuk memvisualisasikan konsep
abstrak, seperti menggunakan aplikasi untuk memutar bentuk-bentuk geometri atau
flashcard berhitung yang interaktif.
Inovasi pengajaran individu di kelas tidak akan maksimal
tanpa dukungan dari budaya sekolah yang literat. Mahasiswa PGSD harus dibekali
kemampuan untuk menjadi agen perubahan yang mendorong ekosistem literasi:
● Pojok Baca Interaktif: Mendorong
terciptanya pojok baca yang menarik dan selalu diperbarui di setiap kelas, yang
bukan hanya berisi buku, tetapi juga hasil karya siswa dan materi-materi
visual.
● Gerakan Membaca 15 Menit: Mempraktikkan
kegiatan membaca sunyi atau membaca nyaring bersama selama 10-15 menit di awal
pelajaran, yang melibatkan seluruh warga sekolah (termasuk guru dan kepala
sekolah).
● Kolaborasi Guru Antar-Mata
Pelajaran: Memastikan bahwa keterampilan membaca dan menulis tidak hanya
diajarkan di pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi juga di pelajaran IPA, IPS,
atau Seni. Guru harus bekerja sama untuk menekankan kosakata kunci dan keterampilan
menulis laporan di semua bidang studi.
Generasi mahasiswa PGSD saat ini adalah kunci untuk menutup
kesenjangan literasi yang membelenggu pendidikan Indonesia. Menguasai pedagogi
literasi dini yang holistik, mulai dari phonics yang sistematis, menulis kreatif
yang terstruktur, hingga numerasi kontekstual berbasis benda konkret, adalah
tugas utama mereka. Dengan membekali diri sebagai guru yang kompeten dan
transformatif, mereka tidak hanya akan mengajarkan siswa cara membaca dan
berhitung, tetapi juga membuka pintu gerbang bagi pemahaman dunia, kemampuan
berpikir kritis, dan kesiapan siswa untuk bersaing di masa depan. Pendidikan
yang kuat berawal dari literasi yang kuat, dan masa depan literasi ada di
tangan calon guru SD.
penulis: adella