Program Penguatan Karakter melalui Kegiatan Literasi dan Buku Harian
Program penguatan karakter melalui kegiatan literasi dan pembiasaan menulis buku harian mulai diterapkan secara luas di berbagai jenjang pendidikan. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kebiasaan membaca dan menulis sebagai bagian dari pembentukan kepribadian siswa. Siswa didorong untuk mencatat pengalaman, refleksi, serta nilai-nilai positif yang mereka temukan setiap hari. Aktivitas menulis tersebut dilakukan dalam waktu tertentu dan dibimbing oleh guru sebagai fasilitator. Program ini juga mendorong siswa untuk mengenal dirinya sendiri melalui kebiasaan menuliskan perasaan dan pandangan. Kebiasaan membaca buku berisi cerita inspiratif juga dijadikan stimulus untuk mengembangkan sikap empati dan kejujuran. Penguatan karakter diharapkan terbentuk secara alami melalui proses literasi berkelanjutan. Kegiatan ini dinilai mampu membangun generasi yang reflektif dan berintegritas.
Kegiatan literasi yang dijalankan tidak hanya fokus pada pemahaman isi bacaan, tetapi juga penerapan nilai moral yang terkandung di dalamnya. Siswa diajak untuk menuliskan pesan-pesan kebaikan yang mereka dapatkan dari buku yang dibaca. Guru memberikan arahan agar siswa dapat menghubungkan cerita dalam buku dengan kehidupan sehari-hari. Kebiasaan tersebut melatih kemampuan mereka untuk menyerap pesan positif dan mengamalkannya. Selain membaca, siswa juga melatih kemampuan berpikir kritis saat memilih kata yang tepat dalam buku harian. Proses menulis mendorong siswa untuk belajar menyusun kalimat yang baik dan terstruktur. Kegiatan ini sekaligus melatih kedisiplinan, karena dilakukan secara rutin dan terjadwal. Dengan pembiasaan tersebut, siswa tidak hanya berkembang akademik, tetapi juga karakter pribadinya.
Manfaat lain dari program ini adalah tumbuhnya rasa empati dan sikap peduli terhadap lingkungan sekitar. Melalui cerita yang dibaca, siswa dapat memahami berbagai karakter dan perasaan tokoh sehingga mudah menghargai perbedaan. Ketika diminta menulis buku harian, siswa juga diarahkan untuk mencatat kebaikan kecil yang mereka lakukan dalam kehidupan nyata. Hal ini membantu menumbuhkan rasa percaya diri dan kesadaran akan pentingnya berbuat baik tanpa harus dipaksa. Kegiatan literasi juga mendorong kebiasaan berbagi pengalaman positif dengan teman, sehingga tercipta lingkungan belajar yang saling menghargai. Guru memfasilitasi diskusi ringan sebagai ruang untuk siswa menceritakan pengalaman mereka. Setiap cerita menjadi pembelajaran yang memperkaya wawasan moral mereka. Kebiasaan sederhana ini menjadikan literasi bukan hanya aktivitas akademik, tetapi bagian dari proses menjadi manusia yang lebih baik.
Program penguatan karakter melalui literasi juga memperkuat keterampilan komunikasi siswa. Menulis buku harian membuat siswa lebih terampil menyampaikan pikiran secara teratur. Kemampuan tersebut memudahkan mereka saat berkomunikasi secara lisan, terutama ketika berdiskusi di kelas. Siswa menjadi lebih berani mengungkapkan pendapat karena sudah terbiasa menyusun gagasan dalam bentuk tulisan. Program ini juga memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan perasaan tanpa tekanan. Guru hanya berperan sebagai pembimbing yang mengarahkan tanpa harus menilai isi emosional siswa secara langsung. Pendekatan ini menumbuhkan kepercayaan antara guru dan siswa, sehingga proses belajar terasa lebih nyaman. Dengan komunikasi yang baik, suasana belajar menjadi lebih harmonis dan penuh mutual respect. Kegiatan literasi akhirnya menjadi wadah pertukaran ide yang sehat dan membangun.
Pelaksanaan program ini menunjukkan bahwa penguatan karakter dapat dilakukan secara sederhana, tetapi berdampak besar jika konsisten. Kebiasaan membaca dan menulis secara rutin menjadi sarana pembentukan moral dan pengembangan identitas diri. Program ini diharapkan dapat terus berkembang menjadi budaya positif di lingkungan pendidikan. Dengan dukungan guru, orang tua, dan lingkungan belajar, siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak, kritis, dan peduli. Pelaksanaan literasi bukan sekadar tuntutan akademik, tetapi investasi pada nilai kemanusiaan dalam diri peserta didik. Keteladanan melalui cerita, refleksi melalui tulisan, dan pembiasaan rutin menjadi kunci keberhasilan kegiatan ini. Dengan demikian, literasi bukan hanya proses intelektual, tetapi pembangun karakter yang kuat. Program ini memberikan bukti bahwa membaca dan menulis mampu membentuk generasi yang berpikir, berbudaya, dan beretika.
Penulis: Bewanda Putri Alifah